Liputanjatim.com – Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Sriatun, menyoroti kasus keracunan massal yang menimpa ratusan para santri Pondok Pesantren (Ponpes) Mambaul Hikam Sidoarjo setelah menyantap makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sriatun menegaskan kasus tersebut tidak bisa dianggap hal sepele. Ia mendorong agar dilakukan penyelidikan menyeluruh terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyiapkan dan menyalurkan makanan tersebut.
Ratusan Santri dan Siswa di Sidoarjo Diduga Keracunan MBG, 512 Pasien Dilarikan ke Rumah Sakit
Menurutnya, kasus keracunan massal seperti yang menimpa ratusan santri Pondok Pesantren (Ponpes) Mambaul Hikam merupakan tanda kuat adanya persoalan dalam proses penyediaan makanan, mulai dari pengadaan bahan baku, pengolahan, penyimpanan hingga pendistribusian kepada para penerima manfaat.
“SPPG-nya harus diselidiki. Keracunan massal ini menjadi tanda bahwa ada masalah dalam prosesnya. Harus diketahui secara jelas persoalannya terjadi di mana,” tegas Sriatun.
Selain itu, pihaknya juga meminta agar pihak berwenang juga berfokus pada penanganan para korban, memastikan para santri mendapat penanganan yang baik.
Lebih dari itu, Komisi E DPRD Jatim akan memberikan perhatian serius pada program MBG ini. Program MBG yang memiliki tujuan baik untuk meningkatkan pemenuhan gizi anak-anak tidak boleh dijalankan tanpa pengawasan dan standar keamanan pangan yang ketat.
“Ini menyangkut kesehatan anak-anak dan para santri. Programnya bagus, tetapi pelaksanaannya harus benar-benar diawasi. Jangan sampai makanan yang seharusnya memberikan gizi justru membahayakan kesehatan,” tandasnya.
Seperti diketahui, sekitar 500 lebih santri mengalami keracunan usai menyatap menu MBG. Mereka langsung dibawa ke Rumah Sakit, kabarnya ada sekitar tiga rumah sakit yang menangani peristiwa keracunan massal ini diantaranya, RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo, RSI Siti Hajar, dan RS Delta Surya.