Liputanjatim.com – Tersebarnya kabar dugaan pengkondisian peserta Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, serta adanya larangan bagi media untuk melakukan peliputan di dalam lokasi, mendapat reaksi keras dari KH Abdul Muhaimin.
A'wan PBNU sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Ummahat Kotagede, Yogyakarta, itu mengecam segala bentuk tindakan yang dinilai dapat menurunkan kesakralan Muktamar NU sebagai agenda lima tahunan organisasi.
Menurutnya, persoalan tersebut tidak cukup hanya direspons dengan kecaman maupun keprihatinan. Jika nantinya terbukti terdapat praktik risywah atau politik uang yang melibatkan kandidat, maka harus ada tindakan tegas.
"Kandidat yang terbukti terlibat langsung maupun tidak langsung dalam praktik risywah, wajib didiskualifikasi dalam pemilihan di Muktamar ke-35 NU," tegas KH Abdul Muhaimin.
Ia menilai, dugaan pengkondisian delegasi PWNU dan PCNU di Asrama Haji Sukolilo Surabaya serta kabar mengenai pemberian mahar merupakan persoalan serius yang harus menjadi perhatian seluruh muktamirin.
"Apa yang terjadi di Surabaya hari ini, baik pengkondisian delegasi PWNU dan PCNU di Asrama Haji Sukolilo dan pemberian mahar di beberapa hotel di Surabaya merupakan fakta adanya praktik merusak di tubuh NU yang dikomandani langsung oleh petinggi PBNU demi memuluskan paket 'istana'," ujarnya.
KH Abdul Muhaimin mengingatkan seluruh peserta Muktamar agar tidak membiarkan praktik-praktik yang dinilai dapat mencederai marwah organisasi.
Menurut dia, muktamirin dan muktamirat harus memiliki keberanian untuk menjaga independensi forum tertinggi NU tersebut. Sikap diam, kata dia, dikhawatirkan justru menjadikan persoalan tersebut sebagai dosa kolektif organisasi.
"Muktamirin dan muktamirat harus satu suara, melawan praktik merusak yang bila kita diamkan akan tercatat sebagai dosa kolektif dan organisasi yang akan ditanggung mudharatnya oleh generasi abad kedua NU," katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa Muktamar ke-35 memiliki nilai historis karena digelar di Jombang, yang merupakan kampung halaman para pendiri NU. Karena itu, seluruh proses Muktamar harus dijaga agar tidak tercoreng oleh kepentingan politik kekuasaan.
"Dan kampung halaman pendiri akan kembali ternodai oleh kartel politik kuasa di muktamar perdana di abad kedua NU," tandasnya.
Sebelumnya itu, menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, sejumlah peserta mulai berdatangan ke Jawa Timur.
Namun, bukan langsung ke lokasi Muktamar, peserta disebut terlebih dahulu berada di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya.
Situasi di Asrama Haji Sukolilo juga disebut mendapat penjagaan ketat. Bahkan, sejumlah awak media dikabarkan tidak diperbolehkan melakukan peliputan terhadap aktivitas peserta di dalam area tersebut.
Kondisi tersebut memunculkan spekulasi publik ditengah memanasnya menjelang Mukmarmar. Banyak yang meyakini bahwa kondisi itu bagian dari pengkondisian salah satu calon kuat Ketum PBNU.