SIDOARJO, Liputanjatim.com – Ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur, diduga mengalami keracunan setelah menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG), Selasa (1/9/2026).
Tak hanya dari lingkungan pesantren, dugaan keracunan juga dilaporkan terjadi di sejumlah sekolah yang menerima makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Tanggulangin.
Muhammadiyah Jatim Desak Pemerintah Larang Sound Horeg: Banyak Mudarat, Sudah Makan Korban
Wakil Gubernur Jawa Timur sekaligus Ketua Satgas MBG Jawa Timur, Emil Elestianto Dardak, menyebut terdapat kesamaan sumber makanan dari para korban.
"Memang juga ada data yang menunjukkan selain dari pondok pesantren Manbaul Hikam, ada juga dari sekolah-sekolah lain itu juga mengalami keluhan. Jadi kesamaannya adalah konsumsi dari SPPG yang sama, SPPG Kalitengah, Tanggulangin," tambah Emil, seperti yang dikutip di laman Kompas.
Emil mengungkapkan, hingga Rabu (2/9) pagi, jumlah pasien yang dilaporkan telah mencapai 512 orang.
"Per pagi ini (02/09) tercatat ada 512 pasien yang terlapor dilarikan ke rumah sakit, Pasien tidak hanya berasal dari Ponpes Manbaul Hikam," jelas Emil.
Berawal dari 1.010 Porsi MBG
Menu MBG tersebut tiba di Pondok Pesantren Manbaul Hikam sekitar pukul 10.00 WIB. Sebanyak sekitar 1.010 porsi kemudian dibagikan kepada santri serta siswa Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah Manbaul Hikam.
Pihak pesantren menyebut makanan tersebut tidak dimasak oleh dapur pesantren, melainkan dikirim dari SPPG Kalitengah, Tanggulangin.
Insiden dugaan keracunan mulai terjadi menjelang sore hingga malam. Para santri dan siswa kemudian dilarikan ke sejumlah rumah sakit.
Kondisi di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo bahkan sempat membuat ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) penuh. Puluhan anak datang dengan keluhan yang sama, sehingga pihak rumah sakit harus menambah ranjang.
Sebagian pasien bahkan harus berbaring di atas tandu karena seluruh ranjang IGD telah terisi.
293 Santri Dirawat di Delapan Rumah Sakit
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo, dr Lakhsmie Herawati Yuwantina, sebelumnya menyebut 293 santri mendapat perawatan di delapan rumah sakit.
"293 santri dirawat di delapan rumah sakit. Delapan santri dilaporkan masih mengalami kondisi atau gejala berat dan membutuhkan perawatan lebih lanjut," tambah Lakhsmie.
Namun, jumlah tersebut kemudian bertambah setelah ditemukan korban dari sejumlah sekolah lain yang juga mengonsumsi MBG dari SPPG yang sama.
SPPG Kalitengah diketahui melayani kebutuhan MBG untuk 19 lembaga pendidikan lainnya dengan total sekitar 2.800 porsi per hari.
Menu MBG yang Disantap Korban
Makanan yang dikonsumsi para santri dan siswa terdiri dari lima komponen, yakni nasi putih, telur orak-arik, tumis buncis jagung muda, tempe bumbu Bali dan apel.
Sejumlah santri mengaku sayur yang disajikan terasa aneh dan cenderung masam. Namun, kesaksian tersebut belum dapat dijadikan bukti bahwa sayuran merupakan penyebab dugaan keracunan massal.
Setelah menyantap makanan tersebut, para santri dan siswa mulai mengalami sejumlah keluhan seperti sakit kepala, mual hingga lemas pada Selasa malam selepas waktu Maghrib.
Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo masih melakukan investigasi dengan memeriksa sampel makanan yang telah diamankan ke laboratorium.
Selain sampel makanan, muntahan korban juga diperiksa untuk membantu menemukan penyebab dugaan keracunan.
Bupati Sidoarjo Cek Perizinan SPPG
Bupati Sidoarjo Subandi menyatakan akan melakukan pemeriksaan terhadap perizinan SPPG Kalitengah.
"Segera kita cek ke sana, ya, dengan semuanya dinas pengampu, ya, termasuk perizinan, termasuk Dinkes dan lain-lain," tegas Subandi.
Menurut Subandi, pemeriksaan diperlukan untuk mengetahui persoalan yang terjadi di dapur penyedia makanan MBG.
Ia juga membuka kemungkinan penutupan apabila ditemukan persoalan serius dalam perizinannya.
SPPG Kalitengah Disuspend
Wakil Koordinator Badan Gizi Nasional (BGN) Regional Jawa Timur, Teguh Bayu Wibowo, mengatakan keputusan penghentian sementara terhadap SPPG Kalitengah telah dikeluarkan BGN.
Penghentian dilakukan sambil menunggu proses evaluasi dan hasil pemeriksaan laboratorium.
"Sementara ini karena memang sementara disuspen, dari BGN sudah surat turun di-suspend sementara," kata Teguh.
Ia menjelaskan, status penghentian tersebut masih menunggu hasil evaluasi dan pemeriksaan laboratorium.
"Sampai hasil evaluasi ya, evaluasi dan hasil lab keluar. Jadi sementara kami sedang laporan ke pusat, pusat akan menimbang apakah di-suspendnya, suspend sementara atau suspend permanen," jelasnya.
YLBHI: Pihak Bertanggung Jawab Harus Diproses Hukum
Kasus dugaan keracunan MBG di Sidoarjo juga mendapat sorotan dari Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).
YLBHI menilai peristiwa tersebut merupakan kegagalan negara dalam melindungi hak anak.
Melalui siaran persnya, YLBHI menyatakan dugaan keracunan MBG tidak boleh diperlakukan hanya sebagai persoalan teknis.
Negara dinilai wajib membuka penyelidikan secara transparan kepada publik sebagai bentuk pertanggungjawaban publik.
YLBHI mendesak pihak yang bertanggung jawab diproses sesuai ketentuan hukum apabila ditemukan kelalaian, pelanggaran standar keamanan pangan, hingga kegagalan pengawasan.
Puluhan Pasien Masih Dirawat di RSUD Notopuro
RSUD Notopuro menjadi salah satu rumah sakit yang menampung pasien dalam jumlah besar.
Humas RSUD Notopuro, Rizky Maulana, menyebut pada Rabu (2/9) siang setidaknya 30 pasien dilarikan ke rumah sakit dan langsung mendapatkan penanganan medis.
Sementara itu, masih terdapat 11 pasien yang dirawat sejak Selasa (1/9) malam terkait dugaan keracunan MBG.
"Pasien-pasien itu yang rawat inap dan baru datang Rabu siang ini berasal dari ponpes yang sama," jelas Rizky.
Menurut pihak rumah sakit, kebanyakan anak yang dirawat mengalami dehidrasi.
"Sehingga kami lakukan rehidrasi, supaya kondisi mereka tidak drop," kata Rizky kepada jurnalis di Sidoarjo, Asvin Ellyana.
Rizky juga menambahkan para pasien kebanyakan mengalami mual, muntah hingga diare.
Kesaksian Orang Tua Korban
Salah satu orang tua korban, Reni, mengaku anaknya mengalami mual dan sakit kepala pada Rabu pagi (2/9).
Ia kemudian membawa anaknya ke rumah sakit sekitar pukul 10.00 WIB.
"Anak saya tadi malam masih membantu teman-temannya di ponpes, tidak mengalami gejala apa-apa, tetapi paginya, dia merasa perutnya tidak enak," ungkap Reni.
Menurut pengakuan Reni, anaknya tidak memakan sayur yang dicurigai menjadi penyebab dugaan keracunan massal tersebut.
"Dia hanya makan lauknya," jelas Reni.
Setelah mendapatkan penanganan di IGD, anak Reni diperbolehkan menjalani rawat jalan.
"Diberi obat oleh dokter dan bilang kalau ada keluhan lagi, tolong kembali ke rumah sakit," tutup Reni.
Aktivitas Pesantren Diliburkan
Untuk sementara, aktivitas Pondok Pesantren Manbaul Hikam dihentikan selama beberapa hari.
"Libur untuk sementara waktu," jelas Humas Ponpes Manbaul Hikam, Bahron Nafi.
Santri yang telah menjalani perawatan di rumah sakit pasca dugaan keracunan MBG juga diizinkan pulang ke rumah masing-masing selama sepekan.
Pihak pesantren meminta pemerintah memperketat pengawasan terhadap dapur MBG.
"mengontrol dapur MBG dari pengadaan bahan sampai cara masaknya".
Kepala SPPG: Ini Pertama Kali Terjadi
Di tengah dugaan keracunan massal tersebut, Kepala SPPG Kalitengah, Rafli Ridho, mengaku kejadian ini merupakan yang pertama kali terjadi.
Ia mengatakan proses pengolahan MBG dilakukan seperti biasa. Proses memasak dimulai sekitar pukul 00.00 WIB, kemudian makanan dikirim kepada penerima sekitar pukul 11.00 WIB.
Sebelum dikonsumsi, SPPG juga melibatkan pihak sekolah untuk mencicipi makanan yang akan disajikan.
"Setiap sekolahan itu ada uji yang nantinya dicicipi oleh penanggung jawab dari pihak sekolah, setelah saya tanyai, katanya aman, enggak ada masalah, tapi kok sampai keracunan, itu yang saya pertanyakan," jelas Rafli.
Hingga kini, penyebab pasti dugaan keracunan massal tersebut masih menunggu hasil pemeriksaan laboratorium dan investigasi pihak berwenang.
Kasus ini juga menjadi sorotan serius karena dugaan keracunan tidak hanya terjadi di Pondok Pesantren Manbaul Hikam, tetapi juga dilaporkan dialami siswa dari sejumlah lembaga pendidikan lain yang mengonsumsi makanan dari SPPG Kalitengah.
Pemerintah dan BGN masih melakukan evaluasi untuk menentukan langkah selanjutnya terhadap SPPG tersebut.