Logo Header
Home / Berita

Muktamar ke-35 NU dan Isyarat KH Nurul Huda Djazuli Menjadi Rais Aam PBNU

Abdullah AT / Selasa, 25 Agustus 2026 - 09:41 WIB / 80 views
Muktamar ke-35 NU dan Isyarat KH Nurul Huda Djazuli Menjadi Rais Aam PBNU

Liputanjatim.com — Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), dinamika internal organisasi semakin menghangat. Di tengah kontestasi kepemimpinan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), muncul aspirasi dari sejumlah kiai sepuh dan pengasuh pesantren agar KH Nurul Huda Djazuli, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, bersedia menerima amanah sebagai Rais Aam PBNU.

Dorongan tersebut muncul di tengah kekhawatiran para kiai terhadap semakin tajamnya dinamika perebutan kepemimpinan PBNU. Berbagai tudingan mengenai praktik transaksional dalam kontestasi juga mulai beredar di tengah Nahdliyin.

Menurut Wahab Hasyim, Pemerhati 6 Kali Muktamar NU, persoalan Muktamar tidak semata-mata tentang siapa yang akan menduduki jabatan strategis. Lebih dari itu, Muktamar ke-35 harus menjadi momentum konsolidasi dan rekonsiliasi untuk mengakhiri ketegangan internal.

“NU membutuhkan figur pemimpin spiritual jam’iyyah ulama yang mampu menjadi titik temu berbagai kelompok dan menjadi payung teduh umat,” kata Wahab Hasyim.

Ia menilai Rais Aam tidak cukup hanya memiliki kapasitas keilmuan. Figur tersebut juga harus mempunyai keteladanan, kewaraian, kewibawaan atau haibah, independensi dari kepentingan, serta kemampuan merawat persatuan NU.

“Rais Aam bukan sekadar jabatan struktural. Ia merupakan simbol otoritas keulamaan dan penjaga moral jam’iyyah. Karena itu, kriterianya harus alim, faqih, zahid dan memiliki keteladanan,” ujarnya.

Dalam pandangan Wahab, nama KH Nurul Huda Djazuli dinilai memenuhi kriteria tersebut. Sebagai pengasuh pesantren dan ulama sepuh, Kiai Huda memiliki modal moral untuk menjadi titik temu berbagai kelompok di tubuh NU.

Dorongan terhadap Kiai Huda juga tidak lepas dari keprihatinan atas konflik terbuka di lingkungan PBNU.

Wahab mengatakan, KH Nurul Huda disebut berharap seluruh pengurus NU kembali mengedepankan persatuan, kerukunan, kekompakan dan keikhlasan dalam menjalankan amanah organisasi.

“NU memiliki posisi penting sebagai panutan masyarakat. Karena itu, konflik internal yang terbuka di ruang publik tentu sangat disayangkan karena bisa berdampak terhadap kepercayaan warga Nahdliyin dan masyarakat luas,” katanya.

Kiai Huda juga disebut mendoakan agar NU tetap berjalan sesuai asas dan khittahnya, dikelola secara tertib dan mampu menjadi pelindung bagi seluruh warganya.

“Harapannya NU tetap menjadi rumah bersama, membawa keberkahan bagi syiar Islam serta perkembangan pesantren dan lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia,” imbuh Wahab.


Isyarat Istikharah


Aspirasi agar KH Nurul Huda bersedia menjadi Rais Aam disebut belum langsung mendapatkan jawaban ketika sejumlah kiai sepuh menyampaikan permintaan tersebut.

Kiai Huda hanya tersenyum dan memilih tidak memberikan pernyataan terbuka.

Namun, setelah para tamu berpamitan, ia disebut meminta salah seorang kepercayaannya menemui salah satu kiai sepuh untuk melakukan istikharah.

Menurut Wahab, berdasarkan informasi yang diterimanya dari lingkungan Pesantren Ploso, hasil istikharah tersebut dinilai baik.

Meski demikian, KH Nurul Huda tetap memilih diam. Ia disebut tampak merunduk dan berkaca-kaca ketika pembicaraan mengenai amanah Rais Aam tersebut disampaikan kepadanya.

“Sikap Kiai Huda itu justru menunjukkan bahwa amanah ini tidak dipandang sebagai jabatan yang harus dikejar. Ada beban moral dan tanggung jawab besar yang dipertimbangkan,” ungkap Wahab.

Menurut Wahab, menjadi Rais Aam dalam kondisi NU yang tengah menghadapi ketegangan bukan perkara ringan. Sosok tersebut harus mampu berdiri di tengah berbagai kepentingan sekaligus merangkul kembali pihak-pihak yang selama ini berseberangan.

“Ini bukan soal siapa yang menang dalam kontestasi. Yang lebih penting adalah siapa yang mampu mengakhiri kontestasi dan menyatukan NU setelah Muktamar,” tegasnya.

Karena itu, aspirasi terhadap KH Nurul Huda dinilai bukan semata-mata untuk memenangkan perebutan jabatan. Para kiai justru mencari figur yang dapat mengembalikan marwah jam’iyyah dan membawa NU kembali pada semangat khidmah serta garis perjuangan para ulama pendiri.

“Harapannya bukan hanya lahir pemimpin yang kuat secara struktur, tetapi pemimpin yang mampu menjadi payung bagi semua kelompok dan mengembalikan NU sebagai rumah bersama,” pungkas Wahab.

Apakah KH Nurul Huda Djazuli akan menerima amanah tersebut masih menjadi tanda tanya. Namun, dorongan para kiai sepuh dan adanya isyarat istikharah membuat namanya semakin kuat diperbincangkan menjelang Muktamar ke-35 NU.

ADVERTISEMENT
A

Abdullah AT

Jurnalis dan Kontributor Berita LiputanJatim.com