Logo Header
Home / Nasional

Gus Yusuf Digugurkan dari Bursa Ketum PBNU, Pendukung Protes hingga Muktamar NU Jombang Memanas

Haris / Minggu, 30 Agustus 2026 - 17:52 WIB / 105 views
Gus Yusuf Digugurkan dari Bursa Ketum PBNU, Pendukung Protes hingga Muktamar NU Jombang Memanas

KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf

JOMBANG, Liputanjtaim.com – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, memasuki fase yang semakin panas. Gugurnya KH Muhammad Yusuf Chudlori atau Gus Yusuf dari bursa calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memicu protes sejumlah pendukung hingga berujung kericuhan di sekitar arena Muktamar, Minggu (30/8/2026).

Gus Yusuf sebelumnya menyatakan maju sebagai calon Ketua Umum PBNU dalam Muktamar ke-35 NU. Namun, pencalonannya kemudian dinyatakan tidak lolos dan digugurkan dari bursa.

Keputusan tersebut memantik ketidakpuasan dari sebagian pendukungnya. Ratusan massa mendatangi kawasan arena Muktamar dan berusaha merangsek masuk ke lokasi sidang pleno.

Situasi kemudian memanas setelah massa dihadang pasukan Barisan Ansor Serbaguna (Banser) yang membentuk barikade di sekitar Gedung Serba Guna Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas.

Aksi saling dorong antara massa dan petugas keamanan pun terjadi. Sejumlah massa juga menyampaikan orasi menggunakan pengeras suara.

Salah satu pendemo, Muhammad Akbar Jadi, mengatakan aksi tersebut dilakukan karena pihaknya menilai proses Sidang Pleno Komisi Organisasi Muktamar ke-35 NU berlangsung tidak adil.

“Kami menganggap forum di dalam sidang berlaku tidak adil terhadap beberapa calon. Karena itu kami berharap kiai sepuh turun tangan ikut terlibat mengevaluasi pimpinan sidang dan mencabut keputusan-keputusan yang tidak berpihak dan berlaku zalim kepada calon Ketum PBNU,” ujarnya kepada wartawan di lokasi, Minggu (30/8/2026).

Persoalan Masa Idah Politik Jadi Sorotan

Akbar menyebut Gus Yusuf dirugikan oleh sejumlah ketentuan yang membuatnya terganjal menjadi calon Ketua Umum PBNU dalam Muktamar ke-35 NU.

Salah satu ketentuan yang dipersoalkan berkaitan dengan masa idah politik. Selain itu, calon Ketua Umum PBNU disebut harus memiliki pengalaman sebagai pengurus di tingkat PCNU, PWNU, PBNU, badan otonom, maupun lembaga NU.

“Beliau (Gus Yusuf) adalah pimpinan pondok pesantren Nahdlatul Ulama yang bisa mencalonkan diri sebagai Ketua PBNU. Pengurus bisa saja titip-titip, tapi pimpinan pondok pesantren sudah jelas melahirkan pengurus PBNU, kenapa ditolak? Karena mereka menganggap beliau tidak pernah jadi pengurus, keliru cara pandang seperti itu,” tegasnya.

Protes tersebut berlangsung ketika Sidang Pleno Muktamar ke-35 NU tengah berjalan. Massa menilai keputusan yang menggugurkan Gus Yusuf dari bursa calon Ketua Umum PBNU perlu dievaluasi.

Hingga sekitar pukul 14.20 WIB, ratusan massa masih berkumpul di sekitar Gedung Serba Guna Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas. Pengamanan di sekitar arena Muktamar juga diperketat untuk mengantisipasi situasi kembali memanas.

Sosok Gus Yusuf

Di tengah polemik pencalonannya, Gus Yusuf bukan nama baru dalam lingkungan pesantren maupun politik Nahdlatul Ulama.

KH Muhammad Yusuf Chudlori lahir di Magelang pada 9 Juli 1973. Ia merupakan pengasuh Asrama Perguruan Islam (API) Pondok Pesantren Salaf Tegalrejo, Magelang.

Pesantren yang didirikan KH Chudlori pada 1944 tersebut dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan pesantren dan menjadi tempat sejumlah tokoh menimba ilmu. Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid atau Gus Dur juga pernah belajar di pesantren tersebut.

Setelah KH Abdurrahman Chudlori atau Mbah Dur wafat pada 2011, kepemimpinan pesantren kemudian diteruskan Gus Yusuf. Ia dipercaya mengurus hubungan antarlembaga sekaligus pengembangan pesantren.

Dalam perjalanan pendidikannya, Gus Yusuf pernah menempuh pendidikan pesantren di Lirboyo, Kediri, pada 1985–1994. Ia juga belajar di Salafiyah Kedung Banteng, Purwokerto, serta Salafiyah Bulus, Kebumen.

Di era Reformasi 1998, Gus Yusuf aktif mengawal gerakan reformasi. Ia kemudian masuk Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) atas ajakan Mbah Dur.

Karier politiknya berkembang ketika ia dipercaya memimpin DPC PKB Magelang pada 1999–2007. Saat terjadi konflik PKB pada 2007, Gus Yusuf ditunjuk sebagai Plt Ketua DPW PKB Jawa Tengah.

Pada 2013, ia kembali dipercaya memimpin DPW PKB Jawa Tengah.

Tidak hanya bergerak di bidang pesantren dan politik, Gus Yusuf juga dikenal memiliki perhatian terhadap kebudayaan. Ia menggagas acara tahunan Suran Tegalrejo, mengelola radio Fast FM untuk anak muda, serta aktif di Komunitas Lima Gunung bersama seniman Tanto Mendut.

Dengan latar belakang pesantren, politik, dakwah, dan kebudayaan tersebut, Gus Yusuf menjadi salah satu tokoh yang mendapat perhatian dalam kontestasi Muktamar ke-35 NU.

Namun, gugurnya pencalonan Gus Yusuf kini justru menjadi salah satu pemicu ketegangan di arena Muktamar ke-35 NU Jombang.

Perkembangan selanjutnya akan menentukan bagaimana dinamika tersebut memengaruhi proses pemilihan Ketua Umum PBNU dalam forum tertinggi organisasi Nahdlatul Ulama tersebut.

Tag: #Muktamar NU #Gus Yusuf
ADVERTISEMENT
Haris

Haris

Jurnalis dan Kontributor Berita LiputanJatim.com