Logo Header
Home / Nasional

Yenny Wahid Titip Pesan ke 9 Kiai AHWA: Pilih Nakhoda NU yang Mampu Hadapi Tantangan Abad Kedua

Haris / Senin, 31 Agustus 2026 - 01:12 WIB / 29 views
Yenny Wahid Titip Pesan ke 9 Kiai AHWA: Pilih Nakhoda NU yang Mampu Hadapi Tantangan Abad Kedua

Yenny Wahid saat diwawancarai di lokasi Muktamar 35 NU

JOMBANG, Liputanjatim.com – Putri Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Zannuba Ariffah Chafsoh atau Yenny Wahid, menitipkan harapan besar kepada sembilan ulama yang terpilih sebagai anggota Ahlul Halli Wal ‘Aqdi (AHWA) Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU).

Yenny meyakini sembilan kiai sepuh tersebut mampu mengambil keputusan terbaik dalam menentukan arah kepemimpinan NU untuk masa khidmat 2026–2031.

Harapan itu disampaikan Yenny di Gedung Serba Guna (GSG) Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Ahad (30/8/2026) malam.

Yenny menilai susunan AHWA kali ini diisi para ulama yang memiliki kapasitas keilmuan dan kedalaman agama. Karena itu, ia berharap mereka mampu menentukan Rais Aam sekaligus kandidat Ketua Umum PBNU yang dapat membawa NU menghadapi tantangan zaman.

"Kalau yang kita lihat dari susunan AHWA, kiai-kiai yang ada semuanya alim, semuanya faqih. Jadi kita tentu menaruh harapan besar bahwa beliau-beliau itu kemudian bisa mengambil keputusan yang paling pas dalam memilih Rais 'Aam maupun kandidat Ketua Umum ke depannya, yang bisa menjadi nakhoda bagi NU untuk mengarungi berbagai macam tantangan zaman di abad kedua NU ini," ujar Yenny.

Pesan tersebut menjadi penting karena AHWA berada di jantung proses penentuan kepemimpinan NU. Sembilan ulama hasil tabulasi suara Muktamar ke-35 NU tersebut mendapatkan mandat untuk bermusyawarah menentukan Rais Aam dan memberikan arah dalam proses pemilihan Ketua Umum PBNU.

Yenny Ingatkan Kultur NU: Bukan Marah-Marah

Di tengah dinamika Muktamar ke-35 NU, Yenny juga menyinggung pentingnya menjaga kultur musyawarah dan adab dalam menghadapi perbedaan.

Menurutnya, perbedaan dan kekecewaan terhadap keputusan Muktamar tidak semestinya disalurkan melalui tindakan yang merusak.

"Terus marah-marah, itu bukan kulturnya NU. Kultur NU itu musyawarah. Semua hal, semua perbedaan, seyogianya dimusyawarahkan. Nah, kalau ada yang kecewa dengan hasil keputusan, bukan kemudian dengan cara ngamuk-ngamuk, merusak fasilitas, merusak aset, dan lain sebagainya. Itu bukan caranya NU," katanya.

Pernyataan tersebut disampaikan ketika dinamika Muktamar ke-35 NU tengah memasuki fase penting penentuan kepemimpinan. Yenny menekankan bahwa tradisi musyawarah harus tetap menjadi jalan utama dalam menyelesaikan perbedaan di tubuh organisasi.

Soal Iddah Politik, Yenny Tegas: Sudah Menjadi Kesepakatan

Yenny juga menyinggung salah satu keputusan Muktamar mengenai penerapan masa jeda politik atau iddah politik bagi kepengurusan NU.

Ia menilai keputusan tersebut sudah final dan justru diperlukan untuk menjaga jarak NU dari kepentingan politik praktis.

"Masa iddah politik itu harus sudah diterima karena sudah menjadi kesepakatan dari muktamirin. Itu sudah diputuskan dan itu baik karena memberi jarak dari partai politik ke NU, supaya NU tidak terlalu mudah dimasuki oleh politisi. NU tetap berjarak, NU tetap netral, NU berada di atas semua partai politik, karena politiknya NU adalah politik kebangsaan," urainya.

Menurut Yenny, NU harus kembali menempatkan pengabdian kepada masyarakat dan bangsa sebagai fokus utama jam'iyyah.

"Urusannya adalah mengurusi persoalan rakyat, persoalan bangsa, persatuan dan kesatuan bangsa, serta kesejahteraan dan kemakmuran rakyat. Jadi kalau kemudian iddah politik itu dipermasalahkan, apalagi dengan cara ngamuk itu bukan caranya orang NU," katanya.

AHWA Sudah Tentukan Rais Aam

Harapan Yenny kepada AHWA kemudian berhadapan dengan keputusan penting beberapa jam setelah pernyataan tersebut disampaikan.

Sembilan anggota AHWA akhirnya menggelar musyawarah tertutup di ndalem KH Abdul Wahab Chasbullah, kawasan Tambakberas, Jombang.

Dalam musyawarah tersebut, AHWA secara mufakat menetapkan KH Miftachul Akhyar sebagai Rais Aam PBNU masa khidmat 2026–2031. Keputusan itu diumumkan dalam Sidang Pleno V Muktamar ke-35 NU di GSG Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Ahad (30/8/2026) malam.

Ketua Umum MUI sekaligus anggota AHWA, KH Anwar Iskandar, menyebut musyawarah tersebut diawali oleh KH Nurul Huda Jazuli dan dipimpin KH Miftachul Akhyar.

"Setelah melakukan pertemuan tertutup, anggota AHWA secara mufakat memutuskan bahwa nama KH Miftachul Akhyar dipilih menjadi Rais Aam PBNU masa khidmah 2026-2031," kata Kiai Anwar Iskandar saat mengumumkan hasil musyawarah AHWA.

Dengan keputusan tersebut, salah satu pesan utama Yenny mengenai pentingnya AHWA memilih kepemimpinan yang mampu menjadi nakhoda NU di abad kedua telah memasuki tahap baru.

KH Nurul Huda Jazuli Raih Suara Tertinggi

Sebelumnya, sembilan anggota AHWA ditetapkan berdasarkan hasil tabulasi suara dari usulan PWNU, PCNU, hingga PCINU.

Dari total 4.703 suara, sebanyak 34 nama ulama masuk dalam bursa. Setelah proses tabulasi, sembilan nama dengan suara tertinggi ditetapkan sebagai anggota AHWA.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, KH Nurul Huda Jazuli, menjadi peraih suara tertinggi dengan 485 suara.

Di bawahnya terdapat KH Nuruzzahri Yahya dengan 477 suara, KH Baharuddin HS 392 suara, KH Miftachul Akhyar 350 suara, KH Afifuddin Muhajir 339 suara, KH Anwar Iskandar 326 suara, KH Anwar Manshur 303 suara, KH Said Aqil Siroj 273 suara, dan KH Abun Bunyamin 268 suara.

Sembilan nama tersebut kemudian menjadi forum yang memegang peran penting dalam menentukan arah kepemimpinan Syuriyah NU.

Kini, keputusan AHWA telah menghasilkan satu nama untuk posisi Rais Aam. Tahapan Muktamar ke-35 NU selanjutnya bergerak menuju agenda krusial lainnya, yakni pemilihan Ketua Umum Tanfidziyah PBNU masa khidmat 2026–2031.

Tag: #Muktamar NU #Yenny Wahid #AHWA
ADVERTISEMENT
Haris

Haris

Jurnalis dan Kontributor Berita LiputanJatim.com