Logo Header
Home / Nasional

9 Kiai Sepuh Masuk Dalem Kasepuhan, Rais Aam PBNU Segera Ditentukan

Haris / Minggu, 30 Agustus 2026 - 22:46 WIB / 50 views
9 Kiai Sepuh Masuk Dalem Kasepuhan, Rais Aam PBNU Segera Ditentukan

9 Kyai Sepuh berkumpul di Dalem Kasepuhan

JOMBANG, Liputanjatim.com – Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) memasuki salah satu fase paling menentukan. Sembilan kiai sepuh yang terpilih sebagai anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) mulai menggelar sidang tertutup untuk menentukan Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmah 2026-2031.

Sidang AHWA berlangsung di Dalem Kasepuhan KH Abdul Wahab Chasbullah, kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Minggu (30/8/2026) malam.

Para anggota AHWA datang secara bergantian menuju kediaman salah satu pendiri NU tersebut. Sidang berlangsung tertutup dan menjadi tahapan penting sebelum proses penentuan Ketua Umum PBNU dilanjutkan.

Sembilan kiai yang masuk dalam forum tersebut merupakan ulama dengan perolehan suara tertinggi dalam tabulasi anggota AHWA Muktamar ke-35 NU.

Mereka adalah KH Nurul Huda Jazuli, TGK Nuruzzahri Yahya, KH Baharuddin HS, KH Miftakhul Akhyar, KH Afifuddin Muhajir, KH Anwar Iskandar, KH Anwar Manshur, KH Said Aqil Siroj, dan KH Abun Bunyamin.

KH Nurul Huda Jazuli menjadi peraih suara tertinggi dengan 485 suara, disusul TGK Nuruzzahri Yahya dengan 477 suara. Selanjutnya KH Baharuddin HS memperoleh 392 suara, KH Miftakhul Akhyar 350 suara, KH Afifuddin Muhajir 339 suara, KH Anwar Iskandar 326 suara, KH Anwar Manshur 303 suara, KH Said Aqil Siroj 273 suara, dan KH Abun Bunyamin 268 suara.

Gus Ipul: AHWA Bermusyawarah Menentukan Rais Aam

Ketua Organizing Committee (OC) Muktamar ke-35 NU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengatakan, sidang tersebut menjadi ruang bagi sembilan kiai terpilih untuk bermusyawarah menentukan Rais Aam PBNU.

"Dalam sidang AHWA ini ada musyawarah antar para kiai yang terpilih, jumlahnya sembilan, untuk kemudian memilih Rais Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama," kata Saifullah Yusuf atau Gus Ipul.

Menurut Gus Ipul, proses tersebut akan mempertimbangkan berbagai hal sebelum keputusan diambil.

"Tentu para ulama akan bermusyawarah dengan berbagai pertimbangan-pertimbangan yang ada dan kita menunggu hasil. Insya Allah, siapapun yang diputuskan itu merupakan amanah dari muktamirin dan diteruskan oleh para anggota AHWA," ujarnya.

Dengan demikian, keputusan Rais Aam tidak ditentukan melalui pemungutan suara langsung seluruh muktamirin. Mandat tersebut berada di tangan sembilan ulama yang telah ditetapkan sebagai AHWA.

Mekanisme Kepemimpinan NU Berubah

Sidang AHWA kali ini memiliki bobot berbeda karena Muktamar ke-35 NU sebelumnya menyepakati perubahan mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU.

Dalam Sidang Pleno III, sebanyak 401 dari 552 suara menyetujui mekanisme pemilihan Ketua Umum PBNU melalui AHWA. Sebanyak 150 suara memilih agar mekanisme one man one vote tetap digunakan, sementara satu suara dinyatakan tidak sah.

Perubahan tersebut membuat proses pemilihan kepemimpinan PBNU berlangsung dengan tahapan berbeda.

Sembilan anggota AHWA terlebih dahulu bermusyawarah menentukan Rais Aam PBNU. Setelah Rais Aam ditetapkan, proses berlanjut pada penentuan Ketua Umum PBNU.

Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU), Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU), dan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) yang memiliki hak suara dapat mengusulkan nama calon Ketua Umum PBNU. Setiap wilayah dan cabang dapat mengusulkan hingga lima nama.

Lima nama dengan perolehan usulan terbanyak kemudian diteruskan kepada Rais Aam terpilih untuk selanjutnya dimusyawarahkan bersama sembilan anggota AHWA.

Gus Ipul menegaskan proses tersebut sepenuhnya dipercayakan kepada para ulama.

"Tentu para ulama akan bermusyawarah dengan berbagai pertimbangan-pertimbangan yang ada dan kita menunggu hasil. Insya Allah, siapapun yang diputuskan itu merupakan amanah dari muktamirin dan diteruskan oleh para anggota AHWA," ujarnya.

485 Suara KH Nurul Huda Jazuli Jadi Sorotan

Di antara sembilan nama tersebut, KH Nurul Huda Jazuli menjadi perhatian karena memperoleh dukungan tertinggi.

Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Mojo, Kediri, tersebut mengantongi 485 suara. Perolehan itu menempatkannya di posisi pertama dalam tabulasi anggota AHWA Muktamar ke-35 NU.

KH Nurul Huda Jazuli atau yang akrab disapa Mbah Yai Da merupakan putra KH Ahmad Djazuli Utsman dan Nyai Hj Rodliyah Djazuli. KH Ahmad Djazuli Utsman merupakan muassis Pondok Pesantren Al-Falah Ploso.

Sepeninggal sang ayah, KH Nurul Huda bersama saudara-saudaranya melanjutkan estafet kepemimpinan dan pengelolaan Pesantren Al-Falah Ploso. Ia dikenal memegang teguh prinsip thariqoh ta'lim wa ta'allum, yakni jalan belajar dan mengajar.

KH Nurul Huda juga sebelumnya pernah masuk dalam jajaran AHWA pada Muktamar ke-34 NU di Lampung. Pada Muktamar ke-35, kepercayaan terhadap dirinya meningkat hingga menempatkannya sebagai peraih suara terbanyak.

Dalem Kasepuhan, Ruang Musyawarah yang Penuh Sejarah

Pemilihan Dalem Kasepuhan KH Abdul Wahab Chasbullah sebagai lokasi sidang AHWA juga memiliki makna tersendiri.

Tempat tersebut merupakan kediaman KH Abdul Wahab Chasbullah, salah satu pendiri Nahdlatul Ulama. Kini, bangunan tersebut menjadi bagian dari kompleks Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas.

Di tempat inilah sembilan ulama sepuh berkumpul untuk menentukan sosok yang akan menempati posisi Rais Aam PBNU masa khidmah 2026-2031.

Sidang berlangsung tertutup. Para kiai masuk ke dalam Dalem Kasepuhan secara bergantian sebelum memulai musyawarah.

Suasana di sekitar lokasi juga mendapat pengamanan. Sembilan anggota AHWA kemudian menjalankan mandat yang mereka terima dari peserta Muktamar untuk menentukan Rais Aam.

Sembilan Kiai di Titik Penentu

Kini, perhatian warga Nahdliyin tertuju pada sembilan kiai tersebut.

Mereka tidak hanya bertugas memilih Rais Aam PBNU. Dalam mekanisme baru yang disepakati Muktamar ke-35, forum AHWA bersama Rais Aam terpilih juga akan memiliki peran dalam menentukan Ketua Umum PBNU periode 2026-2031.

Artinya, sembilan nama yang malam ini berkumpul di Dalem Kasepuhan berada di titik penting suksesi kepemimpinan NU.

Dari suara muktamirin, sembilan ulama tersebut memperoleh mandat. Dari ruang musyawarah di Dalem Kasepuhan, arah kepemimpinan PBNU lima tahun ke depan akan mulai ditentukan.

Namun siapa yang akan dipilih sebagai Rais Aam masih menjadi hasil musyawarah sembilan kiai tersebut.

Tag: #Muktamar NU #Gus Ipul #PBNU #AHWA
ADVERTISEMENT
Haris

Haris

Jurnalis dan Kontributor Berita LiputanJatim.com