GRESIK — Konser orkes dangdut Adella di Desa Wonokerto, Kecamatan Dukun, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, berakhir ricuh pada Rabu (26/8/2026). Kericuhan antarkelompok penonton terjadi di tengah berlangsungnya acara hingga membuat aparat keamanan beberapa kali menghentikan jalannya konser.
Bentrokan membuat suasana pesta rakyat yang semula berlangsung meriah berubah mencekam. Sejumlah penonton terlibat aksi saling serang dan lempar benda keras. Petugas keamanan bersama kepolisian kemudian bergerak membubarkan massa untuk mencegah bentrokan semakin meluas.
Dalam insiden tersebut, seorang pemuda mengalami luka cukup serius pada bagian kepala. Korban sempat mendapat pertolongan medis di lokasi sebelum akhirnya dievakuasi menggunakan ambulans menuju fasilitas kesehatan terdekat.
Warga setempat, Irsyadul Ibad, mengatakan kericuhan tersebut sangat disayangkan karena acara yang seharusnya menjadi hiburan masyarakat justru menimbulkan keresahan dan membahayakan keselamatan penonton maupun warga sekitar.
Menurut Irsyadul, masyarakat berharap kejadian serupa tidak kembali terulang. Ia menilai seluruh pihak perlu mengutamakan keamanan dan tidak mudah terprovokasi ketika terjadi persoalan di tengah kerumunan penonton.
“Kami sebagai warga tentu sangat menyayangkan kejadian seperti ini. Acara yang seharusnya menjadi hiburan malah berujung kericuhan dan ada warga yang sampai terluka. Harapannya ke depan pengamanan lebih diperketat dan penonton juga bisa menjaga diri agar tidak mudah terprovokasi,” ujar Irsyadul Ibad.
Kericuhan kemudian disebut merembet hingga wilayah Kabupaten Lamongan. Sekitar pukul 17.00 WIB, aksi susulan terjadi di kawasan Desa Karanggeneng. Massa sempat berkonsentrasi di jalan raya hingga menyebabkan arus lalu lintas dari kedua arah tersendat.
Kondisi tersebut membuat sejumlah pengguna jalan panik. Kendaraan dari arah berlawanan mengalami antrean panjang karena aktivitas massa sempat mengganggu kelancaran jalur penghubung antarkabupaten tersebut.
Mendapat laporan mengenai kondisi tersebut, aparat kepolisian langsung melakukan penyisiran dan membubarkan kelompok massa yang masih berkumpul. Petugas juga mengatur arus kendaraan untuk mengurai kemacetan serta memastikan situasi kembali kondusif.
Berkat respons cepat aparat, kondisi di kawasan Karanggeneng berangsur normal. Sebelum waktu Magrib, jalur raya tersebut kembali dapat dilalui kendaraan dan situasi dinyatakan aman.
Insiden ini menjadi evaluasi bagi penyelenggara, aparat keamanan, serta para penonton. Pengamanan yang memadai dan kesadaran untuk tidak mudah terprovokasi menjadi faktor penting agar pertunjukan musik rakyat tidak kembali berubah menjadi ajang bentrokan yang membahayakan keselamatan masyarakat.
Hiburan seharusnya menghadirkan kegembiraan, bukan meninggalkan korban luka dan keresahan bagi warga di sekitar lokasi acara.