JOMBANG, Liputanjatim.com – Nama KH Nurul Huda Jazuli menjadi sorotan dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU). Pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Kediri, itu terpilih sebagai anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dengan perolehan suara tertinggi, yakni 485 suara.
Hasil tersebut diketahui setelah proses tabulasi suara anggota AHWA dalam rangkaian Sidang Pleno Muktamar ke-35 NU di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, rampung pada Ahad (30/8/2026).
Perolehan suara KH Nurul Huda Jazuli menempatkannya di posisi teratas dari sembilan ulama yang ditetapkan sebagai anggota AHWA. Ia unggul tipis atas TGK Nuruzzahri Yahya yang memperoleh 477 suara.
Berikut hasil lengkap tabulasi sembilan anggota AHWA Muktamar ke-35 NU:
- KH Nurul Huda Jazuli – 485 suara
- TGK Nuruzzahri Yahya – 477 suara
- KH Baharuddin HS – 392 suara
- KH Miftakhul Akhyar – 350 suara
- KH Afifuddin Muhajir – 339 suara
- KH Anwar Iskandar – 326 suara
- KH Anwar Manshur – 303 suara
- KH Said Aqil Siroj – 273 suara
- KH Abun Bunyamin – 268 suara.
Pemilihan AHWA dilakukan melalui mekanisme usulan dari unsur kepengurusan NU. Para perwakilan menuliskan nama ulama yang diusulkan, kemudian surat suara dimasukkan ke dalam kotak suara untuk selanjutnya dilakukan tabulasi.
Proses penghitungan berlangsung selama beberapa jam. Setelah seluruh suara ditabulasi, sembilan nama dengan perolehan suara tertinggi ditetapkan sebagai anggota AHWA Muktamar ke-35 NU.
Bukan Nama Baru di AHWA
Terpilihnya KH Nurul Huda Jazuli sebagai anggota AHWA bukan kali pertama. Pada Muktamar ke-34 NU di Lampung pada 2021, namanya juga masuk dalam sembilan anggota AHWA.
Kala itu, KH Nurul Huda Jazuli memperoleh 385 suara dan berada di posisi ketujuh. Lima tahun berselang, perolehan suaranya meningkat menjadi 485 suara, sekaligus menjadi yang tertinggi dalam Muktamar ke-35.
Kenaikan perolehan tersebut memperlihatkan semakin kuatnya kepercayaan peserta Muktamar terhadap sosok kiai sepuh asal Kediri tersebut dalam forum yang memiliki posisi penting dalam menentukan arah kepemimpinan NU.
Pengasuh Al-Falah Ploso
KH Nurul Huda Jazuli dikenal sebagai salah satu ulama sepuh dari Jawa Timur. Ia merupakan pengasuh Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, Mojo, Kediri.
Ia merupakan putra KH Ahmad Djazuli Utsman dan Nyai Hj Rodliyah Djazuli. KH Ahmad Djazuli Utsman sendiri dikenal sebagai pendiri sekaligus muassis Pondok Pesantren Al-Falah Ploso.
Dalam lingkungan keluarga pesantren, KH Nurul Huda Jazuli juga dikenal sebagai saudara dari KH Hamim Djazuli atau Gus Miek, KH Fuad Mun'im Djazuli, KH Munif Djazuli dan Nyai Hj Lailatul Badriyah Djazuli.
Riwayat keilmuannya antara lain ditempa langsung oleh ayahnya, KH Ahmad Djazuli Utsman, serta KH Mahrus Ali dari Pondok Pesantren Lirboyo. Aktivitasnya kemudian banyak dihabiskan untuk mengasuh dan mengajar para santri di Al-Falah Ploso.
Sosok KH Nurul Huda Jazuli juga dikenal dekat dengan tradisi pengajian pesantren. Sejumlah sumber mencatat dirinya tekun mengajar kitab-kitab keislaman, termasuk Shahih Bukhari dan Tafsir Jalalain.
Ploso dan Dinamika AHWA
Nama KH Nurul Huda Jazuli sebelumnya juga berada di tengah dinamika pembahasan AHWA menjelang Muktamar ke-35 NU.
Pada 20 Juni 2026, sejumlah kiai sepuh berkumpul di kediaman KH Nurul Huda Jazuli di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso. Pertemuan tersebut membahas AHWA menjelang Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2026.
Dalam pertemuan itu hadir sejumlah ulama sepuh, di antaranya KH Anwar Manshur, KH A Kafabihi Mahrus, KH Ma'ruf Amin, KH Said Aqil Siroj, KH Ali Akbar Marbun, KH Asep Saifuddin Chalim, KH Mas'ud Masduqi dan KH Ubaidullah Shodaqoh.
Beberapa isu yang menjadi perhatian dalam pertemuan tersebut antara lain mekanisme AHWA serta posisi pesantren dan ulama dalam menentukan arah kepemimpinan NU.
Sebelumnya, pada Juni 2026, Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar bersama Sekjen PBNU Saifullah Yusuf atau Gus Ipul juga sowan ke Pondok Pesantren Al-Falah Ploso. Kedatangan tersebut berkaitan dengan persiapan pelaksanaan Munas Alim Ulama dan Konbes NU 2026 yang kemudian digelar di Ploso.
Kini Memegang Mandat Menentukan Rais Aam
Dengan terpilihnya sembilan anggota AHWA, tahapan Muktamar ke-35 NU kini memasuki fase penting.
Sembilan ulama tersebut memiliki mandat untuk bermusyawarah menentukan Rais Aam PBNU masa khidmah 2026-2031. Hasil musyawarah AHWA kemudian menjadi bagian penting dalam rangkaian penentuan kepemimpinan PBNU periode berikutnya.
Posisi KH Nurul Huda Jazuli sebagai peraih suara terbanyak membuat namanya menjadi salah satu figur paling menonjol dalam komposisi AHWA kali ini.
Dari 385 suara pada Muktamar ke-34 menjadi 485 suara pada Muktamar ke-35, kepercayaan peserta terhadap kiai sepuh dari Ploso tersebut meningkat secara signifikan.
Kini, sembilan kiai sepuh itu berada di titik yang menentukan. Mereka bukan sekadar hasil akhir dari tabulasi suara Muktamar, tetapi menjadi bagian dari forum yang akan menentukan siapa yang akan memegang amanah Rais Aam PBNU 2026-2031.