Logo Header
Home / Bencana

Kemarau Diprediksi hingga Oktober, Lebih dari 1.000 KK di Jember Krisis Air Bersih

Pamela / Rabu, 02 September 2026 - 12:44 WIB / 6 views
Kemarau Diprediksi hingga Oktober, Lebih dari 1.000 KK di Jember Krisis Air Bersih

Warga sedang mengambil bantuan air bersih.

JEMBER – Lebih dari 1.000 kepala keluarga (KK) di Kabupaten Jember terdampak kekeringan. Kondisi tersebut diperkirakan masih berlangsung hingga Oktober 2026 setelah BMKG memprediksi puncak kemarau di wilayah Jember mengalami perpanjangan.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jember pun meningkatkan kesiapsiagaan, terutama menghadapi potensi kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala BPBD Jember Edy Budi Susilo mengatakan sebelumnya puncak kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus.

Namun, perkembangan terbaru menunjukkan kondisi kemarau berpotensi berlanjut hingga Oktober.

“Dengan kemungkinan bahwa akan masih berlangsung sampai dengan bulan Oktober, maka dua bulan ini kita betul-betul sangat-sangat waspada,” kata Edy dalam konferensi pers di Kantor BPBD Jember, Selasa (1/9/2026).

Hingga 31 Agustus 2026, BPBD Jember telah menangani kekeringan di delapan wilayah, yakni Pakusari, Kalisat, Sumbersari, Silo, Bangsalsari, Jelbuk, Rambipuji, serta Kelurahan Baratan, Kecamatan Patrang.

Dampak kekeringan membuat lebih dari 1.000 KK membutuhkan pasokan air bersih. BPBD bersama sejumlah pihak telah menyalurkan sekitar 507.500 liter air melalui 103 kali pengiriman.

Distribusi dilakukan menggunakan mobil tangki milik BPBD, Perumda Air Minum (PDAM), Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Perkim), serta PMI.

Jadwal pengiriman disesuaikan dengan hasil asesmen dan jumlah warga terdampak.

“Setiap hari kita bergiliran menyesuaikan hasil asesmen. Bisa jadi ada yang dua hari sekali terkirim, tiga hari terkirim, atau empat hari terkirim, tergantung jumlah KK terdampaknya,” jelas Edy.

BPBD juga menemukan sejumlah wilayah terdampak kekeringan yang sebelumnya tidak masuk zona merah dalam pemetaan awal BMKG.

Kecamatan Kalisat, Rambipuji, Patrang dan Sumbersari yang masuk zona merah telah mengalami kekeringan.

Namun, Kecamatan Tempurejo yang juga masuk zona merah belum mengalami kondisi serupa.

Sementara wilayah yang sebelumnya masuk zona hijau justru mengalami krisis air, seperti Desa Banjarsari, Kecamatan Bangsalsari, dan Desa Panduman, Kecamatan Jelbuk.

Di Banjarsari, BPBD telah melakukan distribusi air sebanyak lima kali, sedangkan Panduman enam kali.

Untuk Panduman, kekurangan air juga dipengaruhi persoalan teknis Pamsimas, seperti kebocoran pipa dan kerusakan mesin pompa.

BPBD kemudian berkoordinasi dengan Dinas PUPR, pemerintah desa, dan pengurus HIPPAM untuk memperbaiki jaringan tersebut. Setelah sistem kembali berjalan, distribusi air ke Panduman dihentikan sementara.

“Solusinya di tahap awal kami tetap memberikan pasokan air, karena atas nama kemanusiaan,” ujar Edy.

BPBD Jember telah menempatkan sekitar 30 tandon di sejumlah wilayah terdampak dan masih memiliki sekitar 325 tandon untuk kebutuhan selanjutnya.

Untuk menghadapi kemungkinan kemarau yang lebih panjang, BPBD juga menyiapkan enam sumber air, di antaranya sumber air Desa Garahan Kecamatan Silo, Kebun Glantangan Tempurejo, GSG, PDAM Kaliwates, Yayasan Ibnu Katsir Kaliwates, serta SMK Negeri Balung.

Menurut Edy, seluruh sumber tersebut masih dalam kondisi baik dan dapat digunakan untuk mendukung distribusi air bersih selama kondisi kekeringan berlangsung.

“Jadi ada enam sumber air yang kita siapkan dan sejauh ini semuanya masih kondisinya bagus dan bisa menjangkau. Kami sudah mengambil sebanyak 507.500 liter air,” pungkasnya.

Tag: #kekeringan #kemarau #jember #BPBD #BMKG #pemkab jember #air #jatim #liputanjatim #karhutla
ADVERTISEMENT
P

Pamela

Jurnalis dan Kontributor Berita LiputanJatim.com