Liputanjatim.com - Pejuang Nusantara Indonesia Bersatu (PNIB) bersama melalui aksi kemanusiaan gotong royong Bhakti Sosial di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur menyalurkan sebanyak 99.999 liter air bersih kepada warga yang terdampak krisis air. Bantuan tersebut diangkut menggunakan 11 tangki berkapasitas sekitar 9.700 liter dan didistribusikan ke sejumlah titik di Kecamatan Ngraho.
Penyaluran dilakukan di Desa Nganti, meliputi Dukuh Tukbuntung, Dukuh Jati dan Dukuh Jeding; Desa Sugihwaras di Dukuh Sambirobyong; Desa Jumok di Dukuh Banyu Urip, serta Desa Ngraho.
Ketua Umum PNIB AR Waluyo Wasis Nugroho alias Gus Wal mengatakan, aksi tersebut bukan sekadar kegiatan sosial. Menurutnya, krisis air bersih yang dialami masyarakat Bojonegoro dan daerah sekitarnya merupakan persoalan yang telah berlangsung selama puluhan tahun dan membutuhkan solusi jangka panjang.
“Jangan sampai kekayaan minyak bumi Bojonegoro terus diambil, sementara masyarakat Bojonegoro, Jawa Timur dan Indonesia masih harus berjuang mati-matian mendapatkan air bersih,” ujar Gus Wal pada awak media, Jumat (01/09/2026).
Gus Wal menyinggung aktivitas industri ekstraktif, termasuk ExxonMobil, yang telah lama melakukan eksploitasi minyak bumi di Bojonegoro.
Gus Wal mempertanyakan sejauh mana manfaat kekayaan alam tersebut benar-benar dirasakan masyarakat di sekitar wilayah eksploitasi.
“Jangan sampai rakyat hanya menjadi penonton hasil sumber daya alamnya dieksploitasi di tanahnya sendiri, namun tak dapat merasakan dan menikmati kekayaan tanahnya sendiri,” terangnya.
Menurut Gus Wal, besarnya aktivitas eksploitasi ExxonMobil atas sumber daya alam di Bojonegoro semestinya berjalan beriringan dengan manfaat nyata bagi masyarakat, termasuk pemenuhan kebutuhan dasar seperti air bersih.
99.999 Liter, Bukan Sekadar Angka
Angka 99.999 liter sengaja dipilih PNIB bukan tanpa alasan. Gus Wal menyebut angka tersebut memiliki makna simbolik karena NU identik dengan simbol bintang sembilan. Bantuan air bersih itu sekaligus menjadi doa dan harapan merayakan Muktamar NU ke-35 yang berlangsung 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang yang telah melahirkan kepemimpinan baru dengan terpilihnya KH Miftahul Akhyar Sebagai Rois Aam dan KH Abdul Hakim Mahfudz sebagai Ketua Umum PBNU.
Aksi distribusi air bersih tersebut menjadi simbol bahwa perbedaan pilihan politik, pandangan, latar belakang maupun kepentingan tidak boleh mengalahkan kepedulian terhadap sesama.
“Di dunia ini tidak ada yang lebih penting daripada kemanusiaan, kepedulian, cinta, kasih sayang dan persatuan,” kata Gus Wal.
Menurutnya, ketika masyarakat menghadapi musibah, bencana maupun Momentum Maulid Nabi Muhammad SAW, HUT ke-81 Kemerdekaan RI dan Muktamar NU ke-35, menurut PNIB, harus diterjemahkan dalam aksi nyata : kepedulian, gotong royong, persaudaraan, kerukunan, kedamaian dan persatuan.
“Indonesia aman, Indonesia makmur, Indonesia damai. Merdeka rakyatnya, sejahtera kehidupannya, dan kuat persatuannya,” tegasnya.
Ia menegaskan bahwa bangsa Indonesia tidak boleh kehilangan fondasi kemanusiaannya.
“Yang lebih penting dari ekonomi, politik dan kekuasaan adalah cinta, kasih sayang dan kemanusiaan,” pungkasnya.