Warga Keluhkan Elpiji Langka, Pemkab Jember Imbau Tak Panic Buying
Liputanjatim.com - Sejumlah warga Kabupaten Jember mengeluhkan kelangkaan gas elpiji 3 kilogram, baik di tingkat pengecer maupun pangkalan resmi. Kondisi i...
Pamela
Jurnalis LiputanJatim
Liputanjatim.com - Sejumlah warga Kabupaten Jember mengeluhkan kelangkaan gas elpiji 3 kilogram, baik di tingkat pengecer maupun pangkalan resmi.
Kondisi ini semakin terasa saat Ramadhan, ketika kebutuhan bahan bakar memasak meningkat untuk menyiapkan hidangan berbuka dan sahur.
Anibudin, warga Desa/Kecamatan Kalisat, mengaku bahwa sudah sekitar tiga hari mencari gas elpiji di warung-warung.
"Hampir semua warung di Kalisat sudah diputeri, Mayang, Biting, dan sempat nitip juga ke Jember kota tidak ada," ungkapnya kepada Kompas.com, Senin (23/2/2026).
Bahkan, Anibudin mengungkapkan, kesulitan mendapatkan elpiji 3 kilogram di pangkalan.
"Sempat ke pangkalan juga tapi tetap kosong," ujarnya.
Hal yang sama juga Novia Suryandari rasakan, ibu rumah tangga sekaligus penjual camilan.
Kebutuhan akan gas elpiji 3 kilogram selain di dapur juga di warung sederhananya.
Novia mengatakan, sudah mencari elpiji 3 kilogram ke sejumlah toko pengecer tetapi stoknya mayoritas kosong.
"Aku cari di tiga toko dekat rumah kosong masihan, belum dapat kiriman. Kalau untuk masak masih ada, tapi wes (sudah) ketar ketir," ungkapnya.
Dia pun mengaku khawatir adanya oknum yang menimbun elpiji bersubsidi itu sehingga stok di tengah masyarakat banyak yang kosong.
Kepala Dinas Koperasi Usaha Mikro dan Perdagangan Jember, Sartini, mengatakan bahwa tak mendapatkan laporan langsung mengenai kelangkaan gas elpiji bersubsidi.
"Mungkin masyarakat ini yang panic buying sehingga seolah-olah ada kelangkaan," katanya.
Namun, di saluran pengaduan Pemkab Jember Wadul Guse, menurut dia, sempat ada yang mengadu.
"Kami minta langsung dari Pertamina yang menjawab karena yang punya kewenangan untuk lebih detailnya masalah penyaluran gas ini," ujarnya.
Sartini menjelaskan, distribusi gas elpiji 3 kilogram ke pangkalan-pangkalan resmi di wilayah kota dilakukan setiap hari.
Sementara di luar wilayah kota, disalurkan setiap 2 hari sekali. Bahkan, dia menyebut, selama Ramadhan Pertamina sudah menambah suplai dari hari biasanya.
Baca juga: Banyuwangi Luncurkan “Banyuwangi Attractions 2026”, Hadirkan 86 Event Sepanjang Tahun
"Masyarakat karena panik sehingga dia berlebih untuk membeli," katanya.
Sartini mengatakan, sempat melakukan pengcekan ke lapangan langsung dan berinteraksi dengan masyarakat.
Selama Ramadhan ini, konsumsi gas elpiji masyarakat terlihat lebih boros karena lebih sering memasak.
Yang biasanya satu tabung elpiji 3 kilogram bisa untuk 10 sampai 15 hari, ketika puasa hanya bertahan 5 sampai 7 hari.
"Berarti kan perilaku masyarakat sendiri di dalam mengonsumsi gas ini lebih karena ya itu tadi ada yang buat kue kering, untuk konsumsi rumah tangga, atau dia jualan takjil," ujar Sartini.
Dia juga memastikan tak ada kenaikan harga jual elpiji 3 kilogram dan tetap sesuai harga eceran tertinggi (HET).
"Kami sudah dari agen ke penyalur, itu semua harga tetap Rp 18.000. Kalau pangkalan sampai menjual Rp 20.000 pasti dia akan kena sanksi dari Pertamina dan izinnya akan dicabut," tegasnya.
Dia pun mengimbau agar masyarakat tidak melakukan penimbunan agar pasokan elpiji 3 kilogram tetap lancar dan tidak terjadi kelangkaan. Terlebih saat menjelang hari raya Idul Fitri.