Logo Header
Home / Sosial Budaya

Puluhan Ribu Warga Tumpah Ruah di Sembayat Bambu Carnival

Pamela / Kamis, 20 Agustus 2026 - 18:04 WIB / 1 views
Puluhan Ribu Warga Tumpah Ruah di Sembayat Bambu Carnival

GRESIK – Puluhan ribu warga memadati Jalan Nasional Pantura Daendels, Desa Sembayat, Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, Senin (17/8/2026) malam. Mereka tumpah ruah menyaksikan Sembayat Bambu Carnival yang digelar untuk memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Karnaval dua tahunan tersebut menghadirkan puluhan miniatur dan ornamen raksasa hasil kreativitas warga Desa Sembayat. Parade berlangsung meriah dengan iringan sorot lampu warna-warni dan dentuman sound horeg yang membuat suasana semakin semarak.

Warga bahkan rela duduk lesehan di sepanjang pinggir jalan hingga Selasa (18/8/2026) dini hari. Mereka bertahan untuk menyaksikan seluruh rangkaian parade yang berlangsung sekitar tujuh jam, mulai pukul 18.30 WIB hingga 00.45 WIB.

Beragam kreasi raksasa diarak sepanjang sekitar dua kilometer. Mulai burung rajawali, cenderawasih, orangutan, nyamuk raksasa, sapi, kerbau, buaya hingga berbagai karakter antagonis.

Tidak hanya mengangkat tema flora dan fauna, peserta juga menampilkan ornamen bernuansa budaya seperti Suku Asmat, Dayak hingga Raja Prabu Siliwangi.

Berbagai miniatur tersebut dibuat dengan detail dan dilengkapi mekanisme tertentu sehingga sejumlah ornamen tampak bergerak seolah-olah hidup ketika diarak di tengah kerumunan warga.

Kemegahan karnaval tersebut tidak lepas dari keterlibatan masyarakat. Sebanyak 23 Rukun Tetangga (RT) di Desa Sembayat ikut ambil bagian dalam pembuatan miniatur dan ornamen yang dipamerkan.

Setiap RT membuat satu ornamen dengan biaya puluhan juta rupiah. Kepala Desa Sembayat Amin mengatakan, anggaran untuk setiap ornamen berkisar Rp35 juta hingga Rp40 juta.

“Per RT itu kurang lebih Rp35 juta sampai Rp40 juta. Semuanya hasil urunan warga,” kata Amin.

Dana tersebut dikumpulkan secara gotong royong selama sekitar tiga bulan sebelum pelaksanaan karnaval. Jika ditotal dengan kebutuhan sound horeg dan perlengkapan pendukung lainnya, biaya penyelenggaraan Sembayat Bambu Carnival tahun ini mencapai lebih dari Rp1 miliar.

“Totalnya lebih dari Rp1 miliar. Ini hasil urunan masyarakat yang dikumpulkan selama kurang lebih tiga bulan,” ujarnya.

Besarnya biaya yang dikeluarkan tidak menyurutkan antusiasme warga. Di tengah kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, masyarakat tetap rela menyisihkan uang demi mempertahankan tradisi sekaligus memeriahkan peringatan kemerdekaan.

Bagi warga Sembayat, karnaval tersebut bukan sekadar ajang memperebutkan hadiah. Tradisi yang digelar setiap dua tahun itu telah menjadi ruang bagi masyarakat untuk berkumpul, bergotong royong dan menunjukkan kreativitas.

Karya yang dibuat masing-masing RT kemudian dinikmati masyarakat luas melalui parade yang menjadi salah satu pesta rakyat terbesar di kawasan tersebut.

Padatnya warga di sepanjang Jalan Nasional Pantura Daendels sebenarnya telah diantisipasi panitia. Sebelum kegiatan berlangsung, panitia mengurus izin keramaian dan menyampaikan informasi kepada masyarakat melalui media sosial.

Pengguna jalan yang melintas di kawasan Sembayat juga diarahkan menggunakan jalur alternatif Pantura Lamongan untuk mengurangi kepadatan lalu lintas selama karnaval berlangsung.

Meski demikian, kemacetan dan lamanya waktu menunggu tidak menyurutkan semangat warga yang datang khusus untuk menyaksikan karnaval. Mereka rela bertahan berjam-jam demi melihat satu per satu miniatur raksasa karya warga Sembayat melintas di hadapan mereka.

Sembayat Bambu Carnival kembali membuktikan bahwa kemeriahan perayaan kemerdekaan tidak hanya lahir dari kemegahan acara, tetapi juga dari kekuatan gotong royong masyarakat dalam menjaga tradisi dan melahirkan karya bersama.

ADVERTISEMENT
P

Pamela

Jurnalis dan Kontributor Berita LiputanJatim.com