Lumpur Sidoarjo Capai 31 Juta Meter Kubik, PPLS Kebut Penguatan Tanggul
Upaya pengamanan kawasan Lumpur Sidoarjo, Jawa Timur, terus diperkuat untuk mengantisipasi risiko limpasan lumpur akibat penurunan tanah dasar. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena di sisi lain volume lumpur di kawasan penanganan juga terus mengalami peningkatan.
Pamela
Jurnalis LiputanJatim
SIDOARJO – Upaya pengamanan kawasan Lumpur Sidoarjo, Jawa Timur, terus diperkuat untuk mengantisipasi risiko limpasan lumpur akibat penurunan tanah dasar.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena di sisi lain volume lumpur di kawasan penanganan juga terus mengalami peningkatan.
Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) melakukan sejumlah langkah pengamanan, salah satunya dengan menambah ketinggian tanggul sementara (temporary) pada sejumlah titik yang dinilai rawan rembesan dan limpasan.
Peninggian dilakukan menggunakan material lumpur sedimen klastik halus berupa lempung (clay) dan lanau (silt) yang dikeruk dari dalam kolam penampungan.
Material tersebut ditempatkan pada titik-titik tertentu di atas tanggul eksisting sebagai upaya menambah elevasi sekaligus memperkuat sistem pengamanan.
Kepala Bidang Operasional PPLS, Nalvian, mengatakan langkah tersebut terutama difokuskan pada kawasan kritis, termasuk bagian barat jalur tanggul 10D.
Wilayah tersebut menjadi salah satu titik yang mengalami penurunan tanah cukup signifikan dibandingkan kawasan lainnya.
Menurut Nalvian, tanggul yang sebelumnya dibangun berada pada elevasi sekitar +11,00 meter di atas permukaan laut (MDPL).
Namun, akibat proses penurunan tanah atau land subsidence, elevasinya kini turun hingga rata-rata +8,03 MDPL.
“Awalnya tinggi tanggul berada pada elevasi +11.00 MDPL. Namun karena kondisi tanah dasar yang sangat lunak dan terus mengalami penurunan, saat ini keberadaan elevasinya berada pada +8.03 MDPL. Penurunan ini bukan dikarenakan tanggul mengalami rusak, akan tetapi dikarenakan mengalami penurunan (deformasi),” ujar Nalvian dalam keterangan tertulis, Jumat (31/7/2026).
Nalvian menjelaskan, kawasan Lumpur Sidoarjo berada di atas lapisan tanah yang sangat lunak dengan daya dukung rendah.
Kondisi tersebut membuat struktur tanggul dan infrastruktur lain di sekitarnya rentan mengalami deformasi seiring berjalannya waktu.
Berdasarkan hasil pengujian tanah, nilai NSPT (Standard Penetration Test) pada kedalaman sekitar 40 meter hanya mencapai angka 3.
Nilai tersebut menunjukkan kondisi tanah yang tergolong sangat lunak (very soft), khususnya pada material lempung.
Nilai tersebut berada jauh di bawah kisaran 10-30 yang umumnya menjadi acuan untuk kondisi tanah yang lebih mendukung sebagai dasar pondasi suatu struktur.
Kondisi geologi tersebut membuat tanggul maupun infrastruktur di sekitar kawasan, termasuk jalur rel kereta api, terus mengalami penurunan secara alami.
Penurunan elevasi tanggul kemudian berdampak terhadap kapasitas ruang penampungan.
Ketika posisi tanggul semakin rendah, permukaan lumpur di dalam kolam menjadi relatif lebih tinggi sehingga risiko limpasan (overtopping) dan rembesan ke luar tanggul ikut meningkat.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, PPLS membangun tanggul sementara dengan memanfaatkan material lumpur hasil pengerukan dari dalam kolam.
Tanggul sementara ditempatkan di atas tanggul eksisting untuk meningkatkan elevasi hingga sekitar +10,00 MDPL.
Dengan penambahan tersebut, sistem tanggul diharapkan mampu menahan dan mencegah limpasan lumpur saat volume penampungan mencapai kondisi over storage pada elevasi sekitar +8,73 MDPL.
Selain peninggian tanggul, PPLS juga membangun banwall atau tanggul penahan.
Struktur tersebut berfungsi sebagai pelindung untuk melokalisasi aliran lumpur agar tidak langsung memberikan tekanan terhadap tanggul utama.
Banwall sekaligus berfungsi mengarahkan aliran lumpur sehingga distribusinya lebih terkendali dan kapasitas kolam penampungan dapat tetap dipertahankan.
Pembangunan Tanggul Permanen
Sementara itu, Kepala SNVT PPLS, Mahdani, mengatakan pembangunan tanggul permanen telah dimulai sebagai solusi jangka panjang untuk meningkatkan keamanan kawasan Lumpur Sidoarjo, termasuk permukiman dan wilayah di sekitarnya.
“Pembangunan tanggul permanen saat ini sudah berjalan. Tanggul sementara tetap dipertahankan sebagai langkah antisipasi, sementara konstruksi permanen dilaksanakan secara bertahap dengan target penyelesaian pada tahun 2026,” kata Mahdani.
Menurut Mahdani, pembangunan tanggul permanen diprioritaskan pada kawasan 10D sepanjang kurang lebih 750 meter.
Lokasi tersebut menjadi salah satu titik paling rawan karena mengalami penurunan tanah dengan tingkat yang lebih tinggi dibandingkan wilayah lainnya.
Penurunan tanah di kawasan tersebut tercatat bervariasi dengan rata-rata mencapai sekitar 30-50 sentimeter per tahun.
Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan sejumlah titik lain yang rata-rata hanya mengalami penurunan beberapa sentimeter setiap tahun.
Selain meninggikan tanggul, PPLS juga melakukan pengerukan lumpur secara berkala.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi tekanan terhadap tanggul sekaligus menjaga kapasitas tampung kolam.
Lumpur hasil pengerukan kemudian dicairkan dan dialirkan menuju Sungai Porong melalui sistem pengaliran yang dilakukan secara rutin.
Saat ini, volume lumpur di kawasan penanganan diperkirakan mencapai sekitar 31 juta meter kubik dengan elevasi tanggul eksisting berada di kisaran +8,03 MDPL.
Mahdani menegaskan, seluruh pekerjaan pengamanan dilakukan secara berkala sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas kawasan Lumpur Sidoarjo yang terdampak semburan lumpur.
Pembangunan tanggul permanen diharapkan dapat memperkuat sistem pengamanan dalam jangka panjang sekaligus mengurangi risiko melimpasnya lumpur ke kawasan permukiman dan wilayah di sekitar kolam penampungan.
Dengan kombinasi tanggul sementara, banwall, pengerukan lumpur, serta pembangunan tanggul permanen, PPLS berupaya menjaga kapasitas kolam dan mengantisipasi potensi overtopping akibat penurunan tanah maupun peningkatan volume lumpur.