Hari Jadi ke-340, Kota Pasuruan Kenalkan Identitas Baru
Liputanjatim.com - Peringatan puncak Hari Jadi ke-340 Kota Pasuruan menjadi momentum peluncuran branding baru sebagai kota religius-modern, pada Minggu (8/2/20...
Pamela
Jurnalis LiputanJatim
Liputanjatim.com - Peringatan puncak Hari Jadi ke-340 Kota Pasuruan menjadi momentum peluncuran branding baru sebagai kota religius-modern, pada Minggu (8/2/2026).
Arak-arakan kirab dari kantor wali kota ke Taman Harmoni menjadi sarana pengenalan busana khas daerah Suro Wiro Aji Busono. Konon terinspirasi dari busana pahlawan nasional Untung Surapati.
“Usia 340 tahun ini menjadi momentum refleksi. Banyak capaian yang sudah kita raih, tetapi juga masih banyak pekerjaan rumah yang harus kita selesaikan bersama.” ujar Adi Wibowo, Wali Kota Pasuruan (8/2/2026).
Adi menjelaskan, peringatan hari jadi tahun ini mengusung semangat rukun dan gotong royong sebagai fondasi pembangunan.
Maknanya, Pemerintah Kota Pasuruan ingin memastikan bahwa perayaan ini bukan hanya milik pemerintah, tetapi milik seluruh warga Kota Pasuruan.
Di sisi lain, branding Kota Pasuruan sebagai kota religius-modern menjadi harapan bisa menggaet investasi besar tumbuh di Kota Pasuruan.
Pembaruan citra kota, yakni dengan konsep religius-modern yang lahir dari penelitian komprehensif tentang persepsi dan memori kolektif masyarakat.
Salah satu metode yang digunakan adalah survei persepsi warga. Hasilnya menunjukkan, 73,5% responden menyebut Pasuruan sebagai kota santri, dengan nuansa religius sebagai kekuatan utama memori kolektif.
Wali Kota Adi menegaskan, branding ini penting untuk memperkuat identitas dan arah pembangunan kota.
Menurutnya, konsep tersebut bukan sekadar hasil pilihan desain. Melainkan buah dari pembacaan yang teliti atas ingatan kolektif dan perasaan warga Pasuruan terhadap kotanya sendiri.
“Religius bukan berarti statis, modern bukan berarti tercerabut dari akar.” jelas Wali Kota Adi.
Ia menambahkan, di usia Kota Pasuruan yang sudah melewati 3 abad lebih itu diharapkan mampu menyatukan seluruh komponen masyarakat di dalamnya untuk bersama-sama membangun daerah.