KILAS JATIM

Pemerintah Provinsi Jawa Timur Percepat Pembangunan Infrastruktur Konektivitas Antar Wilayah Lintas Selatan.

LiputanJatim.com
Berita 16 Oct 2025, 18:23 WIB

Puluhan Santri Segel Kantor Trans7 di Surabaya, Tuntut CEO Sowan ke Ponpes Lirboyo

Liputanjatim.com — Puluhan santri melakukan penyegelan terhadap kantor yang menampung Kabiro Trans7 dan Bank Mega di Jalan Yos Sudarso, Surabaya, Kamis (16/10/...

A

Abdullah AT

Jurnalis LiputanJatim

1 Pembaca
Puluhan Santri Segel Kantor Trans7 di Surabaya, Tuntut CEO Sowan ke Ponpes Lirboyo

Liputanjatim.com — Puluhan santri melakukan penyegelan terhadap kantor yang menampung Kabiro Trans7 dan Bank Mega di Jalan Yos Sudarso, Surabaya, Kamis (16/10/2025). Aksi itu berlangsung usai rombongan melakukan orasi di depan gedung dan dilakukan sebagai bentuk protes atas tayangan yang dinilai melecehkan pesantren.

Koordinator aksi, Assyiqun, mengatakan penyegelan itu menjadi pilihan setelah tuntutan massa tidak diindahkan oleh pihak terkait. “Ya Alhamdulillah, hari ini kita sudah mengambil keputusan dan kita sudah berhasil menyegel Bank Mega hingga sampai tuntutan kita dipenuhi,” ujarnya kepada wartawan di lokasi.

Assyiqun merinci dua tuntutan utama yang disampaikan massa. Pertama, meminta agar CEO atau pemilik Trans7 datang langsung untuk sowan ke Pondok Pesantren Lirboyo. Kedua, massa menuntut boikot terhadap Trans7 di wilayah Jawa Timur sebagai bentuk tekanan agar persoalan ini tidak dianggap remeh.

“Kami minta CEO atau bosnya Trans7, Choirul  Chairul Tanjung sowan ke Ponpes  Lirboyo langsung, bukan adiknya. Yang kedua, tuntutan kami agar supaya Trans7 diboikot di Jawa Timur. Karena kalau tidak begini, mereka akan meremehkan kami,” kata Assyiqun.

Ia menambahkan bahwa masalah ini sudah muncul sejak 13 Oktober, namun hingga kini belum ada itikad baik berupa kunjungan atau permintaan maaf resmi dari pihak CEO Trans7. Karena itu, kata Assyiqun, massa merasa terpaksa mengambil langkah penyegelan.

“Jadi jangan terpaksa kami bertindak seperti ini. Karena ini sudah tanggal berapa? Dan masalah ini kan sudah dari tanggal 13. Tapi sampai detik ini kok masih diremehkan seperti itu,” ujarnya.

Meski menyadari kemungkinan konsekuensi hukum dari tindakan mereka, Assyiqun menegaskan bahwa para santri siap menanggung risiko demi mempertahankan martabat pesantren dan kiai.

“Wah kami sangat menerima konsekuensinya, bagi kami siapapun yang menghina atau melecehkan Kiai kami maupun pesantren, ya kami harga mati, kami harus bela mati-matian,” demikian Assyiqun.

Pantauan di lokasi menunjukkan penyegelan berlangsung tertib, sementara pihak Trans7 maupun Bank Mega belum memberikan respons resmi terkait aksi tersebut pada saat peliputan.

Bagikan informasi ini: