KILAS JATIM

Pemerintah Provinsi Jawa Timur Percepat Pembangunan Infrastruktur Konektivitas Antar Wilayah Lintas Selatan.

LiputanJatim.com
Berita 09 Feb 2026, 08:56 WIB

Konten ‘Sumpah Pocong’ Hebohkan Publik, Siapa Sebenarnya Gus Idris Al Marbawy?

Liputanjatim.com - Nama Gus Idris belakangan menjadi sorotan publik setelah disebut terlibat dalam dugaan kasus pelecehan yang mencuat di media sosial. Isu ter...

H

Haris

Jurnalis LiputanJatim

1 Pembaca
Konten ‘Sumpah Pocong’ Hebohkan Publik, Siapa Sebenarnya Gus Idris Al Marbawy?

Liputanjatim.com - Nama Gus Idris belakangan menjadi sorotan publik setelah disebut terlibat dalam dugaan kasus pelecehan yang mencuat di media sosial. Isu tersebut bermula dari unggahan seorang pengguna Instagram dengan akun @sovinovitav yang membagikan pengalamannya terkait tawaran shooting bertema “sumpah pocong” di Pondok Pesantren Thoriqul Jannah, Babadan, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang.

Menanggapi tudingan tersebut, Gus Idris mengunggah klarifikasi resmi melalui akun Instagram pribadinya, @gusidrisofficial. Dalam unggahannya, ia membantah tuduhan yang beredar dan menyebutnya sebagai framing serta tuduhan tanpa bukti yang terlanjur viral di media sosial.

Seiring ramainya perbincangan publik, sosok Gus Idris pun menjadi perhatian. Berikut profil singkatnya.

Profil Gus Idris Al Marbawy

Dikutip dari NU Online Jatim, Gus Idris memiliki nama lengkap Muhammad Idris Al Marbawy. Ia dikenal sebagai tokoh muda Nahdlatul Ulama (NU) asal Desa Babadan, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang.

Gus Idris merupakan Khodimul Majelis Thoriqul Jannah, sebuah majelis keagamaan yang hingga kini memiliki ribuan jamaah dari berbagai daerah.

Ia lahir di Malang pada 21 September 1990. Gus Idris adalah putra pertama dari Kiai Rodiyallah, seorang guru sekaligus pemimpin Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Ngajum. Dalam keluarganya, ia memiliki dua saudara, yakni Ning Hikmah dan Ning Nanda.

Sejak usia muda, Gus Idris menempuh pendidikan yang dekat dengan lingkungan pesantren dan ajaran Islam. Saat tingkat SMP, ia bersekolah di SMP Riyadlul Qur’an, kemudian melanjutkan pendidikan SMA di Pakisaji dan lulus dengan predikat siswa terbaik.

Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan tinggi di Universitas Islam Raden Rahmad serta Sekolah Tinggi. Selain pendidikan formal, Gus Idris juga menimba ilmu di sejumlah pondok pesantren, di antaranya Pondok Pesantren Riyadlul Qur’an Ngasem, Pondok Pesantren Miftahul Huda Mojosari, serta Pondok Pesantren Asyadily Sumber Pasir.

Di lingkungan pesantren, ia dikenal sebagai santri yang cerdas dan tekun. Minatnya banyak berkembang di bidang dakwah dan Al-Qur’an. Selama masa pendidikan, ia juga meraih berbagai prestasi, mulai dari tingkat pondok, Kabupaten Malang, hingga Provinsi Jawa Timur, khususnya dalam bidang Al-Qur’an.

Aktivitas Dakwah

Selain menempuh pendidikan, Gus Idris juga telah aktif berdakwah sejak usia muda. Ia kerap mengisi ceramah dari kampung ke kampung, masjid ke masjid, hingga desa ke desa.

Dalam beberapa kesempatan, ia juga dipercaya menggantikan guru maupun ayahnya untuk mengisi majelis di berbagai daerah, bahkan hingga ke luar negeri seperti Hongkong, Makau, dan Taiwan.

Setelah menghafal Al-Qur’an dan menyelesaikan pendidikannya, Gus Idris mulai fokus menyebarkan ilmu serta mengajak umat untuk semakin mencintai Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW. Perjalanan dakwahnya disebut tidak selalu berjalan mulus, karena diwarnai tantangan, kritik, dan hujatan.

Namun, sebagaimana dilansir NU Online Jatim, berbagai rintangan tersebut justru membuatnya semakin bersemangat dalam berdakwah. Ia dikenal memiliki gaya penyampaian yang mudah dipahami masyarakat.

Selain itu, Gus Idris juga dikenal memiliki suara merdu saat melantunkan ayat suci Al-Qur’an dan shalawat, yang membuat banyak jamaah merasa tenang dan tersentuh. Dakwahnya dikenal lemah lembut serta menekankan nilai cinta dan kasih sayang.

Salah satu hal yang menonjol dari sosok Gus Idris adalah kedekatannya dengan masyarakat. Ia dikenal tidak membeda-bedakan undangan, baik dari kalangan sederhana maupun berada, serta dari lokasi yang dekat maupun jauh.

Sikap tersebut membuat banyak masyarakat tertarik untuk belajar dan mendalami ajaran Islam Ahlusunnah wal Jamaah. Seiring waktu dan dukungan keluarga, Gus Idris kemudian mendirikan Majelis Thoriqul Jannah yang terus berkembang dan memiliki jamaah hingga ribuan orang.

Bagikan informasi ini: