JOMBANG, LIPUTANJATIM.COM — Dinamika menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Tambakberas, Jombang, kembali mengemuka. Kali ini, seruan penyelamatan NU disampaikan Ketua Umum DPP PKB Abdul Muhaimin Iskandar atau Gus Muhaimin di tengah konsolidasi alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
Seruan tersebut disampaikan dalam forum peluncuran buku Dari Pergerakan Menuju Kepemimpinan: Jejak Langkah Alumni PMII di Panggung Politik, Akademik, dan Kemasyarakatan yang digelar di Salam Hall Denanyar, Jombang.
Forum yang dihadiri para tokoh alumni PMII itu sekaligus menjadi ruang konsolidasi untuk membicarakan arah perjuangan menjelang pelaksanaan Muktamar NU.
Gus Muhaimin menilai keberadaan wadah alumni di arena muktamar memiliki posisi geopolitik yang amat strategis. Para alumni, menurutnya, tidak boleh hanya menjadi penonton dalam dinamika organisasi, tetapi harus mengambil peran aktif dalam menentukan arah perbaikan jamiyyah.
Sorotan Gus Muhaimin tertuju pada kondisi internal NU selama lima tahun terakhir. Ia menyerukan evaluasi menyeluruh untuk mengembalikan marwah dan kejayaan organisasi.
"Tema terbesar hari ini adalah menyelamatkan NU dari keterpurukan lima tahun terakhir," tegas Muhaimin di hadapan ratusan alumni lintas generasi, Jumat (28/8/2026).
Menurut Gus Muhaimin, jaringan alumni harus berani melihat dan mengakui kelemahan internal secara jujur. Langkah tersebut dinilai penting sebagai pijakan awal untuk merumuskan agenda perbaikan organisasi.
Ia juga menyoroti fenomena perebutan sumber daya serta gesekan kepentingan politik praktis yang terjadi di ruang publik. Kondisi tersebut dinilai telah melukai perasaan warga Nahdliyin di akar rumput.
Gus Muhaimin bahkan mengungkapkan pengalamannya sebagai kader PMII sekaligus kader NU ketika melihat dinamika tersebut.
"Perih lima tahun terakhir ini. Saya sebagai kader PMII, sebagai kader NU, melihat cakar-cakaran, rebutan uang di publik," ungkapnya.
Buku Alumni PMII Bicara Peta Kepemimpinan 2029
Di forum yang sama, Ketua Umum PB IKA PMII Fathan Subchi menjelaskan peluncuran buku tersebut tidak sekadar menjadi dokumentasi perjalanan para alumni PMII.
Buku yang menghimpun tulisan dari 44 alumni itu dirancang sebagai gagasan kepemimpinan nasional. Isinya merangkum pemikiran para alumni yang berkiprah di sektor politik, akademik, bisnis hingga pendampingan masyarakat sipil.
Fathan menggambarkan adanya pergeseran paradigma gerakan alumni, dari sekadar ideologi menuju kepemimpinan nyata di ranah kebijakan publik.
Kekuasaan yang berhasil diraih kader, menurutnya, hendaknya dikonversi menjadi regulasi konkret yang memberikan nilai tambah bagi kemaslahatan masyarakat luas.
Sementara itu, Wasekjen PB IKA PMII M Sholeh Basyari menyebut buku tersebut sengaja menawarkan alternatif kepemimpinan berjenjang yang lahir dari tradisi pergerakan.
Sistem kaderisasi PMII yang matang ditawarkan sebagai salah satu jalan keluar atas krisis kepemimpinan di tingkat nasional.
Sholeh juga memaparkan analisa mengenai siklus Keberhasilan Angka Sembilan dalam sejarah politik alumni PMII dan warga NU.
Menurutnya, catatan empiris menunjukkan momentum politik penting berulang dalam rentang satu dekade sejak era reformasi.
Fenomena tersebut disebut mulai dari kemenangan Gus Dur pada 1999, konsolidasi partai pada 2009, hingga terpilihnya KH Ma’ruf Amin sebagai Wakil Presiden RI pada 2019.
Pola histori sepuluh tahunan itu diprediksi kembali menemukan titik krusial pada Pemilu 2029.
"Pertanyaannya, apakah siklus sembilan tahunan yang sukses itu akan terulang pada 2029? Kalau terulang, tokoh sentralnya hanya satu, yakni Dr. Abdul Muhaimin Iskandar," terang Sholeh.
IKA Perempuan PMII Soroti Akar Kekuatan NU
Sementara itu, Ketua Umum IKA Perempuan PMII Luluk Nur Hamidah membawa perspektif sosiologis melalui karyanya bertajuk Ublek dan Oncor.
Luluk mengajak publik melihat kekuatan sejarah NU bukan semata-mata dari gemerlap panggung kekuasaan, tetapi dari kesederhanaan tradisi musala dan kampung.
Menurut Luluk, akar kebudayaan NU selama ini dirawat oleh para kiai kampung, guru ngaji serta para ibu nyai yang telaten mengajarkan dasar-dasar agama.
Dari ruang-ruang intim tersebut, nilai-nilai moderasi dan pengabdian tumbuh sebelum kemudian bertransformasi menjadi kekuatan sosial yang besar.
"NU itu saya mulai tidak dari sesuatu yang besar seperti hari ini, tetapi dari sesuatu yang kecil, sangat intim, dan indah yang digambarkan seperti Ublek," pungkas Luluk.