SITUBONDO – Kekeringan melanda delapan desa di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, pada musim kemarau 2026.
Kondisi tersebut membuat warga kesulitan mendapatkan air bersih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Delapan desa yang terdampak yakni Desa Gunung Putri, Kecamatan Bungatan; Desa Sumberrejo, Kecamatan Banyuputih; Desa Kembangsari, Kecamatan Jatibanteng; dan Desa Jatisari, Kecamatan Arjasa.
Kemudian Desa Plalangan dan Tlogosari di Kecamatan Sumbermalang, serta Desa Pasir Putih dan Selowogo di Kecamatan Bungatan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Situbondo telah menyalurkan bantuan air bersih ke sejumlah wilayah terdampak. Namun, anggaran yang tersedia dinilai sangat terbatas.
Kepala Pelaksana BPBD Situbondo Timbul Surjanto mengatakan, pihaknya hanya memiliki anggaran sekitar Rp20 juta untuk distribusi air bersih.
“Anggaran kami hanya sekitar Rp20 juta untuk pengiriman air bersih, sangat sedikit dan itu pasti tidak cukup,” ungkap Timbul, Kamis (27/8/2026).
Menurutnya, keterbatasan anggaran terbantu dengan adanya dukungan dari sejumlah instansi.
Perumda Tirta Baluran dan PMI turut membantu pendistribusian air bersih kepada masyarakat.
“Kami mendapat bantuan dari Perumda Tirta Baluran dan PMI. Kalau tidak dibantu, kita pasti sangat kesulitan untuk distribusi air bersih,” tuturnya.
Timbul mengatakan kondisi kekeringan tahun ini perlu menjadi bahan evaluasi pemerintah daerah.
Musim kemarau yang berlangsung cukup panjang menyebabkan enam kecamatan terdampak.
“Saat ini kemaraunya cukup panjang. Ada enam kecamatan dan delapan desa terdampak kekeringan. Ini jadi evaluasi sehingga ke depan lebih diperhatikan,” ujarnya.
Ketua DPRD Situbondo Mahbub Junaidi memastikan pihaknya akan mencermati kebutuhan anggaran untuk penyaluran air bersih.
Menurutnya, keterbatasan anggaran perlu diperhatikan agar kebutuhan masyarakat terdampak dapat terpenuhi.
“Akan kami kaji di perubahan APBD nanti. Kalau memang dirasa kurang untuk kebutuhan operasionalnya maka akan kami tambah sesuai kebutuhannya,” kata Mahbub.
Untuk sementara, Mahbub meminta BPBD memaksimalkan dukungan dari instansi lain, termasuk Perumda Tirta Baluran dan PMI.
“Maksimalkan juga bantuan-bantuan, seperti dari Perumda dan PMI,” sambungnya.
Sementara itu, warga Desa Gunung Putri, Kecamatan Bungatan, Buraya mengatakan kekeringan menjadi persoalan yang berulang setiap musim kemarau.
Menurutnya, warga kerap mengalami kesulitan mendapatkan air bersih sehingga bantuan pemerintah dan lembaga lain sangat dibutuhkan.
“Setiap tahun pasti seperti ini, kalau tak dapat bantuan pasti bingung harus bagaimana. Alhamdulillah kami mendapatkan bantuan walaupun kami harus nunggu antrean bersama warga setempat ketika bantuan datang,” pungkasnya.