KILAS JATIM

Pemerintah Provinsi Jawa Timur Percepat Pembangunan Infrastruktur Konektivitas Antar Wilayah Lintas Selatan.

LiputanJatim.com
Berita 03 Mar 2026, 19:56 WIB

Ecoton Kampanyekan Bahaya Mikro Plastik Hingga ke Sekolah-Sekolah

Liputanjatim.com – Sebuah kesenjangan tajam ditemukan dalam kesadaran lingkungan generasi muda Indonesia. Data terbaru mengungkapkan bahwa meskipun mayoritas a...

A

Abdullah AT

Jurnalis LiputanJatim

1 Pembaca
Ecoton Kampanyekan Bahaya Mikro Plastik Hingga ke Sekolah-Sekolah

Liputanjatim.com – Sebuah kesenjangan tajam ditemukan dalam kesadaran lingkungan generasi muda Indonesia. Data terbaru mengungkapkan bahwa meskipun mayoritas anak-anak sudah memahami ancaman kesehatan dari mikroplastik, lingkungan sekolah mereka justru masih menjadi "pusat" penggunaan plastik sekali pakai.

Menanggapi fakta ini, SMA Negeri 1 Driyorejo menggandeng organisasi lingkungan Ecological Observation and Wetlands Conservation (ECOTON) meluncurkan inisiatif: Program Sekolah Peduli Lingkungan Untuk Pengurangan Plastik Sekali Pakai dan Edukasi Bahaya Mikroplastik.

Founder ECOTON, Prigi Arisandi, menegaskan bahwa edukasi saja tidak cukup jika tidak dibarengi dengan perubahan kebijakan di lingkungan sekolah.

"Hasil riset kami menunjukkan fakta yang kontradiktif: 90 persen anak sebenarnya sudah sangat paham bahaya mikroplastik. Bahkan, 82 persen dari mereka bersedia mengubah perilaku. Namun, keinginan ini terbentur oleh sistem sekolah yang belum menyediakan alternatif, sehingga mereka tetap terpaksa mengonsumsi plastik sekali pakai setiap hari," ungkap Prigi Arisandi.

Menurut Prigi, peran sekolah ini sangat penting untuk memutus rantai polusi plastik melalui pengalaman nyata dan riset siswa.

Kepala SMA Negeri 1 Driyorejo, Alif Hanifah, menyatakan bahwa program ini merupakan langkah konkret untuk membangun karakter siswa di luar pencapaian akademik.

"Sekolah harus menjadi ekosistem yang mendukung perubahan perilaku. Kami ingin siswa tidak hanya belajar teori, tapi menjadi agen perubahan yang memahami bahwa mikroplastik adalah ancaman nyata bagi masa depan mereka," jelasnya.

Belajar Mikroplastik Sebelum Berkampanye

Sebelum mengajak seluruh sekolah mengurangi plastik sekali pakai, inisiatif ini muncul dari ide sekelompok pelajar yang tergabung dalam Jawa Timur Youth Changemaker Academy (JAYCA), jaringan pemuda jawa timur yang mendorong lahirnya pemimpin perubahan sosial.

Program ini diisi oleh pelajar terpilih yang memiliki gagasan dan komitmen untuk menciptakan perubahan nyata. Mereka diseleksi karena keberanian berpikir kritis dan kemauan mengambil tanggung jawab sosial. Tim JAYCA SMAN 1 Driyorejo lebih dulu belajar langsung mengidentifikasi mikroplastik. Mereka mempelajari bentuk serat, fragmen, dan partikel kecil yang tak kasat mata namun ada di sekitar kita.

Kegiatan pendampingan penelitian mikroplastik didampingi langsung oleh Sri Astika, mahasiswa Jurusan Biologi Universitas Negeri Surabaya, yang sedang meneliti keberadaan mikroplastik dalam cairan sperma. Penelitian tersebut membuka mata siswa bahwa mikroplastik bukan sekadar sampah, tetapi sudah masuk ke tubuh manusia.

Koordinator Tim JAYCA SMAN 1 Driyorejo, Krisna Wahyu Sahaja, menekankan bahwa “mengubah perilaku Gen Z untuk menolak plastik sekali pakai harus dimulai dari edukasi tentang bahaya mikroplastik. Sebagai pioner, kita harus memberi contoh, mulai dari membawa tumbler sendiri. Dan itu harus dilakukan terus-menerus, istiqomah,” tegasnya.

Bagikan informasi ini: