Logo Header
Home / Politik

Megawati Bidik Jawa Timur, PDI-P Siap Rebut Kandang PKB di Pemilu 2029

Haris / Selasa, 25 Agustus 2026 - 19:22 WIB / 28 views
Megawati Bidik Jawa Timur, PDI-P Siap Rebut Kandang PKB di Pemilu 2029

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri saat penutupan Rakernas V PDIP, Jakarta, Minggu (26/5). Foto : Ricardo/JPNN

Liputanjatim.com - Jawa Timur kembali menjadi salah satu medan pertarungan politik yang dipersiapkan PDI Perjuangan menuju Pemilu 2029. Targetnya jelas: mengembalikan provinsi tersebut sebagai “Kandang Banteng”.

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri menegaskan pentingnya posisi Jawa Timur dengan mengangkat kembali jejak sejarah Soekarno di wilayah tersebut. Pesan itu disampaikan Megawati dalam acara Konsolidasi PDI Perjuangan Jawa Timur di Hotel Vasa, Surabaya, Minggu (23/8/2026).

Megawati memintal nostalgia sejarah di Jawa Timur. Benang merah itu ditarik dari sebuah ruang sempit tanpa jendela di Jalan Peneleh, Kecamatan Genteng, Kota Surabaya.

Putri dari Soekarno (Bung Karno) itu mencoba membangkitkan ingatan bahwa Jawa Timur, khususnya Surabaya, memiliki posisi penting dalam sejarah perjuangan dan terbentuknya pemikiran Sang Proklamator.

Presiden ke-5 RI itu menceritakan ulang bagaimana ayahnya saat masih berusia 16 tahun menghabiskan malam demi malam untuk membedah pemikiran Thomas Jefferson, Karl Marx, Sun Yat-sen, hingga Jean-Jacques Rousseau dengan pencahayaan terbatas dari nyala api lampu teplok.

Romantisasi pesona Bung Karno juga dijabar sejak lahirnya Singa Podium di Blitar. Kemudian tentang kisah Presiden Pertama RI menghabiskan masa kecil dan menempuh sebagian besar pendidikan pada dasarnya di Mojokerto.

“Dalam perspektif ideologis dan sejarah, Jawa Timur sangat penting. Karena Bung Karno lahir, dibesarkan, dan menggembleng diri di Jawa Timur ini. Surabaya, Mojokerto, dan Blitar penuh dengan rekam jejak sejarah perjalanan Bung Karno. Beliau sendiri Menyebut Surabaya merupakan 'Dapurnya Nasionalisme',” ujar Mega di hadapan ratusan kadernya, dikutip dari ANTARA.

Bersamaan dengan kilas balik sejarah tersebut, terdapat sebuah proses politik yang jelas. PDI-P menargetkan Jawa Timur untuk kembali menjadi “Kandang Banteng” pada Pemilu 2029 mendatang.

“Ingat, ketika menghadapi tekanan Orde Baru pun, Jawa Timur hadir sebagai kekuatan pendobrak. Pandegiling dan Sukolilo menjadi bukti militansi arek-arek Banteng Jawa Timur,” ucap Presiden Kelima RI tersebut.

Selisih Suara dengan PKB Masih Kompetitif

Target PDI-P tersebut memiliki pijakan dari perjalanan perolehan suara partai di Jawa Timur. Dalam satu dekade terakhir, PKB dan PDI-P silih berganti menjadi partai dengan perolehan suara tertinggi di provinsi tersebut.

Pada Pemilu 2014, PKB keluar sebagai pemenang dengan raihan 3.671.911 suara. PDI-P berada di posisi kedua dengan 3.523.434 suara.

Lima tahun berselang, di tahun 2019 banteng moncong putih sukses membalas kekalahan. PDI-P menguasai Jatim dengan perolehan 4.319.666 suara, memaksa PKB turun ke peringkat kedua dengan raihan 4.198.551 suara.

Namun pada Pemilu 2024, PKB kembali merebut mahkota Jatim. Partai hijau bersimbolkan bola dunia itu meraup 4.517.228 suara, sementara suara PDI-P susut di angka 3.735.865, disusul oleh Gerindra dan Golkar.

Pengamat dan dosen Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno, menilai penurunan elektabilitas PDI-P pada tahun 2024 sama sekali bukan pertanda baik bagi partai tersebut. Ia melihat selisih yang terjadi masih dalam batas kompetitif. Kekuatan PDI-P tetap kokoh dan sasaran Megawati dinilai rasional karena dilandasi modal sejarah.

"Saya kira sangat rasional kalau PDI-P punya keinginan melakukan ekspansi politik. Dalam sejarahnya, PDI-P pernah sangat kuat di Jawa Timur. Itu tidak bisa dibantah sebagai sebuah realitas politik. Modal sosial dan modal politiknya sangat memadai," Adi.

Menurut Adi, kemenangan PKB pada Pemilu 2024 juga tidak bisa dilepaskan dari faktor “coattail effect”. Kehadiran Cak Imin sebagai calon wakil presiden dinilai berhasil mengonsolidasikan kelompok tradisionalis dan suara Nahdliyin ke kantong PKB.

"Pertanyaannya, kalau di 2029 PKB tidak mencalonkan jagoannya, bukan tidak mungkin suara yang selama ini terkonsolidasi ke PKB bisa menyebar ke banyak tempat. Secara umum pemilih NU dan warga Nahdliyin saat ini tidak semuanya ke PKB. Banyak juga yang pilih Gerindra, banyak juga yang pilih PDI-P. Ini yang disiasati PDI-P," papar Adi.

Dalam kondisi tersebut, Adi menilai peran Ketua DPD PDI-P Jatim Said Abdullah menjadi krusial. Tokoh tersebut dinilai memiliki jam terbang tinggi dalam melakukan rekrutmen dan kaderisasi lintas budaya sehingga pergerakan politik PDI-P tak kenal musim.

Sekat Santri dan Abangan Mulai Mencair

Perebutan suara di Jawa Timur juga tidak bisa dilepaskan dari karakter sosial dan kultural masyarakatnya.

Peta geopolitik Jawa Timur secara klasik membagi wilayah ini ke dalam tiga subkultur utama. Mataraman sebagai dasar nasionalis atau abangan, Arek yang dinamis atau jamak, dan Tapal Kuda sebagai dasar Islam tradisional dan santri.

Selama beberapa dekade, ada semacam hukum tak tertulis bahwa PDI-P merajai Mataraman, sementara PKB menguasai Tapal Kuda.

Namun, batas-batas tersebut dinilai mulai berubah. Pengamat dan dosen Ilmu Politik Universitas Airlangga (Unair), Airlangga Pribadi, membenarkan premis bahwa perebutan wilayah santri kini menjadi sasaran pemilu yang sangat terbuka.

“Telah terjadi pencairan terkait dengan proses-proses politik. Basis sosial dari persekutuan santri sendiri sekarang diterima oleh PDI Perjuangan. Artinya, PDI-P tidak lagi dianggap sebagai kekuatan politik yang menjadi antitesis atau berkontras dengan pilihan politik santri,” papar Airlangga.

Menurutnya, kondisi tersebut membuka ruang bagi PDI-P untuk memperluas pengaruh hingga wilayah yang selama ini dikenal sebagai basis santri.

“Halaman santri itu biasanya di daerah Tapal Kuda dan Madura. Di wilayah-wilayah tersebutlah akan terjadi kontestasi yang seru untuk 'memerahkan' Jatim,” lanjut Airlangga.

Airlangga juga menyoroti munculnya tokoh-tokoh karismatik dari rahim PDI-P yang memiliki basis massa solid di wilayah Jatim, contohnya Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.

Selain itu, agenda-agenda politik kultural seperti Soekarno Cup yang digelar di Jatim, menurut Airlangga, mempertegas agenda PDI-P untuk mengikis sekat kultural tersebut.

Bagi PKB, manuver tersebut dinilai menjadi tantangan nyata.

“Sebenarnya ini jadi tantangan (bagi PKB). Potensi PDI-P sangat terbuka karena rasionalitas di balik pernyataan Bu Mega didukung oleh kondisi politik di lapangan,” tegas Airlangga.

Ceruk Gen Z Jadi Sasaran Berikutnya

Selain wilayah santri, PDI-P juga menghadapi tantangan untuk memperluas basis pemilihnya di kalangan generasi muda.

Tantangan terbesar PDI-P saat ini tidak bisa lagi hanya mengandalkan pemilih tradisional dari kalangan baby boomer dan kelompok Marhaen tradisional. Jawa Timur kini dibanjiri oleh pemilih rasional dari Generasi Z dan milenial.

Langkah PDI-P yang merangkul anak muda dinilai Adi Prayitno sangatlah strategis. Di saat hampir seluruh kekuatan partai politik merapat ke kursi pemerintahan, PDI-P memilih untuk berada di luar, tampil sebagai penyeimbang kekuatan yang kritis.

"Anak muda itu preferensi politiknya kritis, out of the box, dan mereka adalah pemilih bebas. Mengingat posisi PDI-P saat ini berada di luar kekuasaan, perspektif mereka memang kritis. Kita bisa lihat di Jatim ada jubir muda seperti Seno Bagaskoro. Itu adalah bagian dari kerja politik menyasar ceruk pemilih yang signifikan," jelas Adi.

Adi mengistilahkan manuver PDI-P ini layaknya merengkuh keuntungan ganda.

“Satu sisi ingin membumikan ide-ide Marhaenisme sebagai keberpihakan pada kelompok marjinal. Tapi yang kedua, secara signifikan PDI-P berharap ada ‘muntahan-muntahan bola liar’ yang bisa didapatkan, yaitu bergabungnya anak-anak muda yang kritis menjadi kader mereka,” sambungnya.

Analisis ini sejalan dengan pandangan Airlangga Pribadi. Menurut pakar Unair tersebut, Gen Z memiliki kecenderungan menggemari entitas politik yang berani menggambarkan keadaan.

"Di tengah kondisi politik saat ini ketika hampir semua kekuatan politik merapat ke pemerintah, PDI-P tidak ada representasi di kabinet, dan pilihan politiknya cenderung mengoreksi atau menjadi tombol keseimbangan. Aktivitas langkah-langkah seperti ini biasanya digemari oleh karakter Gen Z yang resah dengan kondisi politik yang ada," papar Airlangga.

Pesan kepada anak muda juga tergambar dalam pidato Megawati saat agenda Konsolidasi PDI Perjuangan Jawa Timur.

“Jadikan ini sebagai pembelajaran bagi anak-anak muda untuk berani bermimpi. Bung Karno berjuang dari sosok pemuda miskin, namun punya cita-cita besar,” seru Megawati.

Integritas Menjadi Ujian PDI-P

Peluang PDI-P untuk kembali menjuarai Pemilu 2029 di Jawa Timur terpampang nyata di atas kertas. Data selisih pemilih membuktikan mereka dengan PKB sangat bisa dikejar, sementara ceruk pemilih muda terus ditanggapi dengan narasi kritis.

Namun, Airlangga Pribadi memberikan satu catatan kritis yang wajib dipenuhi oleh partai liar. Narasi kritis tidak akan memikat Gen Z jika partai tidak menjaga integritasnya.

“Jika yang dibidiknya adalah Gen Z dan ingin mengambil tindakan politik progresif, PDI-P harus benar-benar menampilkan kinerjanya sebagai partai politik yang bersih,” kata Airlangga.

“Sejalan dengan semangat perubahan dan demokrasi. Tentunya PDI-P harus menunjukkan dirinya bersih sehingga benar-benar menjadi pijakan dan dipercaya legitimasi politiknya,” imbuhnya.

Pada akhirnya, pertarungan merengkuh Jawa Timur sebagai “Kandang Banteng” akan bermuara pada seberapa kuat kuat partai ini bertahan di akar rumput.

ADVERTISEMENT
Haris

Haris

Jurnalis dan Kontributor Berita LiputanJatim.com