HPSN 2026, Riset Ecoton Ungkap Mikroplastik Sudah Cemari Darah dan Ketuban Ibu Melahirkan di Gresik
Liputanjatim.com — Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) tahun ini membawa kabar kelam bagi kesehatan masyarakat Indonesia. Riset terbaru dari Ecoton m...
Haris
Jurnalis LiputanJatim
Liputanjatim.com — Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) tahun ini membawa kabar kelam bagi kesehatan masyarakat Indonesia. Riset terbaru dari Ecoton mengungkap fakta mengkhawatirkan: remahan plastik berukuran mikro kini tidak lagi sekadar mencemari sungai dan laut, melainkan telah menyusup ke dalam aliran darah, otak, hingga air ketuban manusia.
Bekerja sama dengan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Ecoton melakukan deteksi mikroplastik terhadap sejumlah perempuan di Gresik. Hasilnya menunjukkan seluruh sampel darah yang diuji positif mengandung partikel plastik berukuran lebih besar dari 0,45 mikrometer (µm).
Partikel tersebut teridentifikasi sebagai polimer polyethylene (PE) dan poly(n-butyl methacrylate) (PBMA).
Peneliti Mikroplastik Ecoton, Sofi Azilan Aini, menyebut fenomena ini sebagai “kutukan” akibat pola konsumsi plastik sekali pakai yang tidak terkendali. Indonesia sendiri saat ini tercatat sebagai penyumbang sampah plastik laut terbesar ketiga di dunia, setelah India dan Nigeria.
“Plastik yang kita buang sembarangan pada akhirnya kembali ke tubuh kita. Infiltrasi mikroplastik dalam darah adalah ancaman kesehatan paling mengkhawatirkan karena partikel ini menetap di organ vital dan berpotensi merusak sel,” ujar Sofi, Senin (23/2/2026).
Cemari Air Ketuban Ibu Melahirkan
Temuan lain yang tak kalah mengejutkan muncul dari ruang persalinan. Kepala Laboratorium Mikroplastik Ecoton, Rafika Aprilianti, memaparkan hasil uji terhadap 42 sampel air ketuban (amnion) ibu melahirkan di Gresik.
Seluruh sampel tersebut terbukti tercemar mikroplastik, terutama jenis polyethylene yang umum ditemukan pada botol minuman, plastik pembungkus makanan panas, hingga tas kresek.
Rafika menegaskan kondisi ini menandakan dimulainya era baru yang mengkhawatirkan, ketika rahim yang seharusnya menjadi tempat paling aman bagi awal kehidupan manusia telah terkontaminasi polutan.
“Ditemukannya mikroplastik dalam ketuban berdampak langsung pada pertumbuhan bayi. Ada korelasi kuat antara keberadaan partikel plastik dengan peningkatan Malondialdehide (MDA), yaitu penanda peradangan yang bisa mengganggu perkembangan janin,” jelas Rafika.
Plastik Juga Capai Jaringan Otak
Ancaman mikroplastik tak berhenti pada darah dan ketuban. Merujuk pada riset kolaboratif antara Greenpeace dan Universitas Indonesia pada Maret 2025, konsentrasi plastik di jaringan otak manusia ditemukan 7 hingga 30 kali lipat lebih tinggi dibandingkan organ hati maupun ginjal.
Paparan zat kimia toksik dari plastik di jaringan saraf tersebut berisiko menurunkan kemampuan kognitif manusia secara bertahap.
Situasi ini mencerminkan persoalan serius dalam pengelolaan sampah nasional. Pada 2023, timbulan sampah Indonesia mencapai 31,9 juta ton, dengan 11,3 juta ton di antaranya tidak terkelola.
Ecoton mendesak langkah radikal untuk menghentikan penggunaan plastik sekali pakai. Mikroplastik diketahui dapat masuk ke dalam tubuh melalui makanan, pernapasan, hingga kulit, termasuk dari produk kosmetik yang mengandung scrub plastik.
Jika tidak ada perubahan perilaku masyarakat dan ketegasan kebijakan pemerintah, “kutukan” plastik ini dikhawatirkan akan terus mengalir di nadi generasi masa depan Indonesia.