Evaluasi Mardiono di Muswil PPP Jatim, Tekankan Kader Solit Menuju Pemilu 2029
Liputanjatim.com - Kegiatan Musyawarah Wilayah (Muswil) PPP Jawa Timur menjadi bahan evaluasi bagaimana kondisi PPP di Pemilu 2024 yang cenderung mengalami pen...
Abdullah AT
Jurnalis LiputanJatim
Liputanjatim.com - Kegiatan Musyawarah Wilayah (Muswil) PPP Jawa Timur menjadi bahan evaluasi bagaimana kondisi PPP di Pemilu 2024 yang cenderung mengalami penurunan jumlah kursi di parlemen hingga tidak masuk di kursi DPR RI.
Ketua Umum PPP M Mardiono memberikan banyak evaluasi pada kadernya di Jatim, termasuk kesalahan-kesalahan di pemilu 2024 sehingga tidak boleh lagi di ulangi pada pemilu 2029.
Menurut Mardiono tidak lolosnya PPP ke parlemen merupakan kecelakaan politik sehingga perlu menjadi evaluasi bersama. Ia mengungkapkan sebetulnya suara PPP di tingkat kabupaten/kota mencapai 8,6 juta, ditingkat provinsi suara PPP berkurang menjadi 6 juta lebih, dan tingkat pusat berkurang lagi hingga tidak mencapai ambang batas masuk parlemen.
"Dan kurangnya itu hanya 130 ribu. Sementara di Jawa Timur saja kehilangan suara adalah 300 ribu. Belum lagi daerah-daerah yang lain," kata Mardiono di sela acara Muswil, Rabu (11/3/2026).
Pihaknya akan terus belajar dari pengalaman yang dialami PPP dari waktu ke waktu. Ia tidak juga menyalahkan kadernya karena PPP tidak lolos ke Senayan. Namun ini akan menjadi pelajaran penting bagaimana selanjutnya PPP kembali ke parlemen.
"Nah ini yang patut untuk kita evaluasi. Kita tidak mau menyalahkan orang lain. Kita tidak mau menyalahkan. Kita tidak mau larut, kitanya tidak mau berkutat ke masa-masa lalu. Tapi kita ingin menatap masa depan," ujarnya.
Ia menuturkan untuk meningkatkan suara PPP dalam setiap perhelatan politik, maka yang paling utama dibutuhkan peningkatan elektoral. Peningkatan elektoral menjadi poin kunci bagaimana partai dapat meraup suara banyak dan berhasil mendudukkan kadernya di kursi jabatan.
"Yang dibutuhkan target pada pemenangan pemilu itu adalah elektoral, bukan sosial," kata dia.
"Partai-partai sebelah itu, dia sudah bekerja secara elektoral. Dia sudah semakin meninggalkan persoalan-persoalan yang berkutat pada komunitas sosial. Bahwa komunitas sosial itu menjadi bagian dari pendukung suksesnya sebuah perjuangan pemilu, ya. Tetapi tidak menjadi faktor yang utama," tambahnya.
Mardiono menekankan kadernya agar bertranformasi dari pola politik lama ke pola politik baru yang bisa diterima pemilih. Ia mengakui bahwa pemilih yang akan datang diisi mayoritas generasi Z dan milenial yang angkanya diperkirakan mencapai 60 sampai 70 persen sehingga membutuhkan adaptasi bagi kader PPP agar tetap menjadi perhatian mereka.
"Nah, yang dimaksud transformasi adalah bagaimana kita merubah pola-pola perjuangan politik dari yang lama ke yang baru. Tapi kan ini harus kita lakukan, kalau tidak ya buat apa," tuturnya.
Oleh sebab itu, dalam Muswil PPP Jatim kali ini menghasilkan pemimpin yang mampu membawa PPP Jatim semakin solid ke depan. Yang dapat merangkul dan bekerja dari bawah hingga ke atas. Sehingga suara PPP di tingkat daerah hingga pusat sama tingginya.
"Kalau tidak akhirnya hasilnya seperti itu. Di grassroots kita suaranya tinggi, di menengah kita sudah turun, di paling pusat [makin turun]. Ini karena kurang sinergitas kerjasama untuk meraih elektoral itu tadi. Nah ke depan ini harus diambil lagi catatan evaluasi kita, untuk kita tidak mau mengulang lagi," pungkasnya.